14/06/12

sang penguasa inlander (pribumi)

[....................]
kehidupan seringkali membuat rumit, tak terencana dan seringkali tak terduga.
lihat saja, mereka sang penguasa berhak melakukan apa saja menurut kemauan mereka sendiri.
dengan tega menindas, membalas sakit hati atau dendam mereka kepada orang lain, lebih tepat kepada orang yang tidak bersalah.
bahkan halal menjatuhkan hingga lawan mereka jatuh sejatuh jatuhnya. melempar lawannya sejauh jauhnya hingga tak terlihat olehnya lagi.
sungguh busuk, menjijikkan, tak lebih dari nafsu iblis belaka. hati nurani telah sirna, mata hatipun terkatup rapat yang mungkin tak akan terbuka atau selamanya tak akan terbuka lagi.
egoisitas memuncak diujung ubun-ubunnya, beringas, ganas, tak terkontrol lagi. akal sehat membatu, hanya kepuasan yang terus saja dikejarnya yang mungkin tak berujung. membawa dirinya makin tersesat dan tersesat semakin jauh, jatuh di lembah ke nistaan senista nistanya makhluk.
***

08/06/12

Terjebak Dimensi...


Ku memikirkan, namun tak kasat mata. Laksana angin menerpa pohon dengan energi dahsyat tetapi taukah, pohon itu tetap bersikukuh di tempat. Seakan rubuh tapi tidak rubuh, dengan usahanya yang begitu kuat sangat mengagumkan sebagai adaptasi dan dapat juga dikatakan sebagai perlindungan diri.
Sesaat, saat tertentu terbawa dalam suasana memekik di seperempat tenggorokan. Asing, bingung, linglung ..apa lagi kata-kata yang dapat melukiskan angan misteri ini?
Seperti mimpi namun nyata terjadi di depan mata, raga mengaku-mematung tak bergerak. Mata terbelalak sebagai gambaran hati nurani yang dikejutkan bak meronta ingin bebas apa daya tubuh telah kehilangan rohnya.
Redup yang kian gelap, mengharap secercah cahaya penyejuk hati membawa suatu hal yang maha dahsyat sebagai penuntun.
Air mata menetes ..hampir putus asa memang, lentera dari botol minyak pun tak bisa mencegahnya. Liku-liku kehidupan dilalui yang dapat dikatakan jauh dari ketentraman hati, begitu keras dengan perjuangan membayar hidupnya sendiri.
Sejarah tak begitu saja sekejap hilang, terekam dengan jelas dalam ingatan otak. Tanpa disadari rekaman itu kembali terulang, berputar sebagai langkah flashback kisah bak kisah menyakitkan tubuh dihujani dengan ribuan jarum tertancap. Hati siapa yang dapat berbohong? Raga pun memperjelas lewat derai air mata jatuh, mengalir di pipi dengan rona kemerahan.

***@nianniun

01/06/12

kala itu, aku masih kecil tak tahu apa-apa. hanya merengek, merajuk kepada bunda dan ayah meminta sesuatu yang aku inginkan. 
kala itu, memang aku tidak mengerti arti bahkan tentang hidup dan kehidupan.
setahuku hanya senang, hanya gembira terpaku dalam imajinasiku sendiri dalam duniaku sendiri dan dalam permainanku sendiri.
yang kutahu hanya kemauanku saja, hanya nafsuku saja. aku tidak mengerti, yang jelas keinginankulah yang hanya kumengerti.
apa artinya, diri ini terkungkung dalam kesendirian yang tak berujung. dan setitik cahaya terang menyinariku, menyadarkanku, membawaku ke dunia yang lebih terangkat dengan abdi berpikir positif nan jauh ke depan.*
 
art . ekspression . culture Blogger Template by Ipietoon Blogger Template