22/02/17

WIJI THUKUL



A.    BIOGRAFI
  • Widji Thukul yang memiliki nama asli Widji Widodo.
  • Tempat, tanggal lahir : Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963.
  • Widji Thukul termasuk salah satu aktivis yang hilang pada periode hitam 1997-1998 tepatnya peristiwa 27 Juli 1998 di mana banyak aktivis hilang, diculik, dan dibunuh secara misterius.
  • Thukul, begitu sapaan akrabnya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia lahir dari keluarga Katolik dengan keadaan ekonomi sederhana.  Ayahnya adalah seorang penarik becak, sementara ibunya terkadang menjual ayam bumbu untuk membantu perekonomian keluarga.
  • Pada Oktober 1989, Thukul menikah dengan istrinya Siti Dyah Sujirah alias Sipon yang saat itu berprofesi sebagai buruh.  Thukul-Sipon dikaruniai anak pertama bernama Fitri Nganthi Wani, kemudian pada tanggal 22 Desember1993 anak kedua mereka lahir yang diberi nama Fajar Merah.
  • Thukul pernah bersekolah di SMP Negeri 8 Solo dan melanjutkan pendidikannya hingga kelas dua di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia jurusan tari. Thukul memutuskan untuk berhenti sekolah karena kesulitan keuangan.

B.     KISAH HIDUP
  • Thukul Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel.
  • Ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat ia dan anak istrinya tinggal. Pada 1994, terjadi aksi petani di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer.
  • Pada 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo.
  •  Tahun 1995 mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex.
  • Peristiwa 27 Juli 1998 menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Ia salah seorang dari belasan aktivis yang hilang.
  • Forum Sastra Surakarta (FSS) yang dimotori penyair Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mengadakan sebuah forum solidaritas atas hilangnya Thukul berjudul "Thukul, Pulanglah" yang diadakan di Surabaya, Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.

C.    KIPRAH KEPENYAIRAN
  • 1989, ia diundang membaca puisi di Kedubes Jerman di Jakarta oleh Goethe Institut.
  • 1990 ia mengikuti “3rd Asia Pasific Trainer’s Training Workshop on Cultural Action” di Korea Selatan.
  • 1991, ia tampil ngamen puisi pada Pasar Malam Puisi (Erasmus Huis; Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta).
  • 1991, ia memperoleh Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra.
  • 1992 ia berkeliling Australia untuk membaca beberapa puisinya diberbagai kota.
  • 2002, dianugerahi penghargaan "Yap Thiam Hien Award 2002"
  •  2002, sebuah film dokumenter tentang Widji Thukul dibuat oleh Tinuk Yampolsky.

D.    PUISI CIPTAAN 
  •       Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994.
  • Kumpulan puisi Pelo
  • Kumpulan puisi Darman dan lain-lain
  • Kumpulan puisi Mencari Tanah Lapang
  • Kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru (2000)
  • Kumpulan puisi Nyanyian Akar Rumput (2014)


E.     GAYA PUISI
Puisi-puisi karya Wiji Tukul mayoritas bertemakan kritik sosial, terutama berhubungan dengan penindasan dan derita yang dialami rakyat jelata. Ungkapan ketidakadilan, protes terhadap kaum penguasa, dan permintaan pembebasan.

IBUNDA
Ibunda
akhirnya menjengukku ke penjara
datang ke penjara
dari kampung ke ibukota
melihat anak tersayang
babak belur
dianiaya tentara
ibunda akhirnya angkat bicara
menggugat tuan jaksa
yang menjebloskan anaknya
berbulan-bulan
ke penjara negara
tak jelas pasal kesalahannya
kesalahan apakah
yang direncanakan oleh anakku
hingga kalian mainstrom seenaknya
sampai anakku demam
tinggi suhu panas badannya.
durhaka apakah
yang diperbuat oleh anakku
hingga tubuhnya mati rasa kalian siksa
hak istimewa apakah yang kalian miliki
begitu sewenang-wenang kalian
main hakin menjalankan pengadilan
tanpa undang-undang.
undang-undang apakah yang kalian praktekkan
tuan jaksa jawab tuan jaksa
undang-undang mana bikinan siapa
yang mengijinkan pejabat negara
menganiaya rakyat
dan menginjak hak-haknya.
tuan jaksa jawab tuan jaksa
tanyakan kepada ibunda
siapa saja
siapa rela
melihat si jantung hati darah dagingnya dicederai
biar pun yang melakukannya penguasa.
maka sekalian aku menempuh bahaya
demi keadilan si buah hati
aku menuntut
tuan jaksa-bebaskan dia!
16 November 1996
Puisi “Ibunda” karya Wiji Thukul memiliki tema kritik sosial terhadap ketidakadilan penguasa terhadap diri penyair. Wiji Thukul adalah penyair yang tidak menyuarakan ketidakadilan dan penderitaan si kecil. Namun, ia ikut merasakan penderitaannya. Ia ditahan tanpa tuduhan yang jelas. Ia dikejar-kejar oleh penguasa karena membela buruh-buruh kecil yang menuntut haknya karena diperlakukan secara tidak adil oleh majikannya. Hukuman yang diterima Wiji Thukul tanpa dijelaskan kesalahannya. Ibu Wiji Thukul menjerit meminta keadilan.
Penyiksaan yang dilakukan aparat keamanan terhadap Wiji Thukul begitu kejam hingga membuatnya buta karena terkena tendangan. Ibu sang penyair merasa ada ketidakberesan di balik penyiksaan itu. Pada bait berikutnya, Wiji Thukul melukiskan bagaimana ibunya mendesak kepada jaksa untuk memberikan penjelasan tentang penyiksaan dan hukuman anaknya. Penyair berkali-kali menyatakan “tuan jaksa, jawab tuan jaksa”.

TUJUAN KITA SATU IBU
kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
"a luta continua."

kutundukkan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncangkan

kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-bu
hukum yang bisu
telah merampas hak anakmu

tapi bukan hanya anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu

kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu:pembebasan!

kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk

kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak

4 Juli 1997

Pada puisi “Tujuan Kita Satu Ibu”, juga bertema kritik sosial terhadap kekejaman pihak berkuasa. Wiji merasa senasib dengan semua rakyat jelata, bersimpati kepada korban-korban kekejaman penguasa itu, juga kepada ibu-ibu mereka. Sikap Wiji Thukul yang demikian karena pada masa Orde Baru selalu berhadapan dengan penguasa hingga ia hilang sampai sekarang.
Berikut ini beberapa puisi Wiji Thukul yang sangat populer, yaitu: “PERINGATAN”, “SAJAK SUARA”, dan “BUNGA DAN TEMBOK”.

PERINGATAN
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.
           
(Wiji Thukul, 1986)

SAJAK SUARA
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
siapkan untukmu: pemberontakan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan


BUNGA DAN TEMBOK
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besiSeumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!


Daftar Referensi

Waluyo, Herman J. 2008. Pengkajian dan Apresiasi Puisi. Salatiga: Widya Sari Press.
            . Biografi Singkat Wiji Thukul. http://sastranesia.com/biografi-singkat-widji-thukul/ diunduh pada tanggal 17 Oktober 2015.
            . 2014. Kumpulan Karya Puisi Wiji Thukul. http://giribig.com/2014/10/kumpulan-karya-puisi-wiji-tukul.html diunduh pada tanggal 17 Oktober 2015.
            . Puisi Wiji Thukul Yang Paling Populer. http://www.beritasatu.com/nasional/68126-puisi-wiji-thukul-yang-paling-populer.html diunduh pada tanggal 17 Oktober 2015.
            . 2014. Sajak Suara. http://www.wijithukul.tk/2014/02/sajak-suara.html diunduh pada tanggal 17 Oktober 2015.
Wikipedia. Wiji Thukul.          . https://id.wikipedia.org/wiki/Widji_Thukul diunduh pada tanggal 17 Oktober 2015.

0 komentar:

Posting Komentar

 
art . ekspression . culture Blogger Template by Ipietoon Blogger Template