A. BIOGRAFI
- Widji Thukul yang memiliki nama asli Widji Widodo.
- Tempat, tanggal lahir : Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963.
- Widji Thukul termasuk salah satu aktivis yang hilang pada periode hitam 1997-1998 tepatnya peristiwa 27 Juli 1998 di mana banyak aktivis hilang, diculik, dan dibunuh secara misterius.
- Thukul, begitu sapaan akrabnya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia lahir dari keluarga Katolik dengan keadaan ekonomi sederhana. Ayahnya adalah seorang penarik becak, sementara ibunya terkadang menjual ayam bumbu untuk membantu perekonomian keluarga.
- Pada Oktober 1989, Thukul menikah dengan istrinya Siti Dyah Sujirah alias Sipon yang saat itu berprofesi sebagai buruh. Thukul-Sipon dikaruniai anak pertama bernama Fitri Nganthi Wani, kemudian pada tanggal 22 Desember1993 anak kedua mereka lahir yang diberi nama Fajar Merah.
- Thukul pernah bersekolah di SMP Negeri 8 Solo dan melanjutkan pendidikannya hingga kelas dua di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia jurusan tari. Thukul memutuskan untuk berhenti sekolah karena kesulitan keuangan.
B. KISAH HIDUP
- Thukul Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel.
- Ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat ia dan anak istrinya tinggal. Pada 1994, terjadi aksi petani di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer.
- Pada 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo.
- Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker).
- Tahun 1995 mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex.
- Peristiwa 27 Juli 1998 menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Ia salah seorang dari belasan aktivis yang hilang.
- April 2000, istri Thukul, Sipon melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).
- Forum Sastra Surakarta (FSS) yang dimotori penyair Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mengadakan sebuah forum solidaritas atas hilangnya Thukul berjudul "Thukul, Pulanglah" yang diadakan di Surabaya, Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.
C. KIPRAH KEPENYAIRAN
- 1989, ia diundang membaca puisi di Kedubes Jerman di Jakarta oleh Goethe Institut.
- 1990 ia mengikuti “3rd Asia Pasific Trainer’s Training Workshop on Cultural Action” di Korea Selatan.
- 1991, ia tampil ngamen puisi pada Pasar Malam Puisi (Erasmus Huis; Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta).
- 1991, ia memperoleh Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra.
- 1992 ia berkeliling Australia untuk membaca beberapa puisinya diberbagai kota.
- 2002, dianugerahi penghargaan "Yap Thiam Hien Award 2002"
- 2002, sebuah film dokumenter tentang Widji Thukul dibuat oleh Tinuk Yampolsky.
D. PUISI CIPTAAN
- Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994.
- Kumpulan puisi Pelo
- Kumpulan puisi Darman dan lain-lain
- Kumpulan puisi Mencari Tanah Lapang
- Kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru (2000)
- Kumpulan puisi Nyanyian Akar Rumput (2014)
E. GAYA PUISI
Puisi-puisi karya Wiji Tukul mayoritas bertemakan
kritik sosial, terutama berhubungan dengan penindasan dan derita yang dialami
rakyat jelata. Ungkapan ketidakadilan, protes terhadap kaum penguasa, dan
permintaan pembebasan.
IBUNDA
Ibunda
akhirnya menjengukku ke penjara
datang ke penjara
dari kampung ke ibukota
melihat anak tersayang
babak belur
dianiaya tentara
ibunda akhirnya angkat bicara
menggugat tuan jaksa
yang menjebloskan anaknya
berbulan-bulan
ke penjara negara
tak jelas pasal kesalahannya
kesalahan apakah
yang direncanakan oleh anakku
hingga kalian mainstrom seenaknya
sampai anakku demam
tinggi suhu panas badannya.
durhaka apakah
yang diperbuat oleh anakku
hingga tubuhnya mati rasa kalian siksa
hak istimewa apakah yang kalian miliki
begitu sewenang-wenang kalian
main hakin menjalankan pengadilan
tanpa undang-undang.
undang-undang apakah yang kalian
praktekkan
tuan jaksa jawab tuan jaksa
undang-undang mana bikinan siapa
yang mengijinkan pejabat negara
menganiaya rakyat
dan menginjak hak-haknya.
tuan jaksa jawab tuan jaksa
tanyakan kepada ibunda
siapa saja
siapa rela
melihat si jantung hati darah dagingnya
dicederai
biar pun yang melakukannya penguasa.
maka sekalian aku menempuh bahaya
demi keadilan si buah hati
aku menuntut
tuan jaksa-bebaskan dia!
16 November 1996
Puisi “Ibunda” karya Wiji Thukul memiliki
tema kritik sosial terhadap ketidakadilan penguasa terhadap diri penyair. Wiji
Thukul adalah penyair yang tidak menyuarakan ketidakadilan dan penderitaan si
kecil. Namun, ia ikut merasakan penderitaannya. Ia ditahan tanpa tuduhan yang
jelas. Ia dikejar-kejar oleh penguasa karena membela buruh-buruh kecil yang
menuntut haknya karena diperlakukan secara tidak adil oleh majikannya. Hukuman
yang diterima Wiji Thukul tanpa dijelaskan kesalahannya. Ibu Wiji Thukul
menjerit meminta keadilan.
Penyiksaan yang dilakukan aparat keamanan terhadap
Wiji Thukul begitu kejam hingga membuatnya buta karena terkena tendangan. Ibu
sang penyair merasa ada ketidakberesan di balik penyiksaan itu. Pada bait
berikutnya, Wiji Thukul melukiskan bagaimana ibunya mendesak kepada jaksa untuk
memberikan penjelasan tentang penyiksaan dan hukuman anaknya. Penyair
berkali-kali menyatakan “tuan jaksa, jawab tuan jaksa”.
TUJUAN
KITA SATU IBU
kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
"a luta continua."
kutundukkan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncangkan
kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-bu
hukum yang bisu
telah merampas hak anakmu
tapi bukan hanya anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu
kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu:pembebasan!
kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak
4 Juli 1997
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
"a luta continua."
kutundukkan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncangkan
kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-bu
hukum yang bisu
telah merampas hak anakmu
tapi bukan hanya anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu
kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu:pembebasan!
kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak
4 Juli 1997
Pada puisi “Tujuan Kita Satu Ibu”, juga
bertema kritik sosial terhadap kekejaman pihak berkuasa. Wiji merasa senasib
dengan semua rakyat jelata, bersimpati kepada korban-korban kekejaman penguasa
itu, juga kepada ibu-ibu mereka. Sikap Wiji Thukul yang demikian karena pada
masa Orde Baru selalu berhadapan dengan penguasa hingga ia hilang sampai
sekarang.
Berikut ini beberapa puisi Wiji Thukul yang sangat
populer, yaitu: “PERINGATAN”, “SAJAK SUARA”, dan “BUNGA DAN TEMBOK”.
PERINGATAN
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.
(Wiji Thukul, 1986)
SAJAK SUARA
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
BUNGA
DAN TEMBOK
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besiSeumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besiSeumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!
Di manapun – tirani harus tumbang!
Daftar Referensi
Waluyo, Herman J. 2008. Pengkajian dan Apresiasi Puisi.
Salatiga: Widya Sari Press.
. Biografi Singkat Wiji Thukul. http://sastranesia.com/biografi-singkat-widji-thukul/
diunduh pada tanggal 17 Oktober 2015.
. 2014. Kumpulan Karya Puisi Wiji
Thukul. http://giribig.com/2014/10/kumpulan-karya-puisi-wiji-tukul.html
diunduh pada tanggal 17 Oktober 2015.
. Puisi Wiji Thukul Yang Paling
Populer. http://www.beritasatu.com/nasional/68126-puisi-wiji-thukul-yang-paling-populer.html
diunduh pada tanggal 17 Oktober 2015.
. 2014. Sajak Suara. http://www.wijithukul.tk/2014/02/sajak-suara.html
diunduh pada tanggal 17 Oktober 2015.
Wikipedia. Wiji Thukul. . https://id.wikipedia.org/wiki/Widji_Thukul
diunduh pada tanggal 17 Oktober 2015.
0 komentar:
Posting Komentar