1) FONEM
a. Fonem
adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna
kata.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: RINEKA CIPTA
b. Sesuatu
bunyi yang mempunyai fungsi untuk membedakan kata dari kata yang lain dapat
disebut fonem (Inggr. Phoneme).
Fonem adalah
setiap kata yang dibagi atas segmen yang terkecil.
Verhaar, J.W.M. 1988. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS
c. Fonem
adalah satuan bahasa terkecil yang bersifat abstrak dan mampu menunjukkan
kontras makna.
Oka, I.G.N. dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Dirjen Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
d. Fonem
adalah bunyi yang distingtif (membedakan arti) atau kesatuan fungsional yang
terkecil yang dapat membedakan arti.
Nikelas, Syahwin. 1988. Pengantar Linguistik untuk Guru Bahasa.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Jenderal Pendidikan Tinggi
Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
e. Fonem
adalah kesatuan bunyi terkecil yang membedakan arti.
Wasilah, A. Choedar Al. 1990. Linguistik suatu Pengantar. Bandung:
Angkasa
f. Fonem
adalah bunyi yang membedakan arti/ atau fonem adalah satuan bunyi terkecil di
dalam bahasa lisan yang berfungsi membedakan arti.
Lubis S dan Siregar. 1985. Pengantar Linguistik Umum. Jakarta: P3B
Depdikbud
2) MORFEM
a. Morfem
adalah bentuk yang sama, yang terdapat berulang-ulang dalam satuan bentuk yang
lain.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: RINEKA CIPTA
b. Satu
morfem kebetulan dapat juga terdiri atas satu fonem saja, morfem adalah bagian
yang disebut dalam definisi di atas, dan boleh disebut bagian, atau
“konstituen”, gramatikal yang terkecil (Ingg. Morpheme).
Verhaar, J.W.M. 1988. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS
c. Morfem
adalah satuan bahasa unsure pembentuk kata yang bersifat abstrak.
Oka, I.G.N. dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Dirjen Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
d.
Morfem
adalah bentuk yang paling kecil yang mempunyai arti yang terdapat dalam
pembentukan kata dari setiap bahasa.
Nikelas, Syahwin. 1988. Pengantar Linguistik untuk Guru Bahasa.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Jenderal Pendidikan Tinggi
Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
e. Morfem
adalah bentuk terkecil yang mempunyai arti.
Lubis S dan Siregar. 1985. Pengantar Linguistik Umum. Jakarta: P3B
Depdikbud
f. Morfem
adalah satuan terkecil dari pembentukan kata dalam suatu bahasa yang tidak
dapat diuraikan lebih lanjut ke dalam bagian-bagian yang bermakna atau yang
dapat dikenal.
Ba’dulu, Abdul Murs dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: PT Rineka Cipta
3) KATA
a.
Para
tata bahasawan tradisional member pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan
ortografi. Menurut mereka kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu
pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan
mempunyai satu arti.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: RINEKA CIPTA
b. Secara
sintaksis apa yang kita sebut kata ialah setiap konstituen yang dapat (i)
dipisahkan dari konstituen yang berikutnya atau yang mendahuluinya dalam
kalimat tertentu; (ii) bertukar tempat, atau ber”permutasi”, dengan konstituen
yang berikutnya atau yang mendahuluinya dalam kalimat tertentu.
Verhaar, J.W.M. 1988. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS
c. Kata
adalah satuan bahasa yang terbentuk dari satu morfem atau lebih.
Oka, I.G.N. dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Dirjen Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
d. Kata
adalah setiap bentuk bebas yang paling kecil dan tidak dapat dibagi ke bagian
kecil lainnya; satu kesatuan yang utuh yang mengandung makna.
Nikelas, Syahwin. 1988. Pengantar Linguistik untuk Guru Bahasa.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Jenderal Pendidikan Tinggi
Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
e. Crystal
(1980 : 383-385), kata adalah satuan ujaran yang mempunyai pengenalan intuitif
universal oleh penutur asli, baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa
tulisan.
Kata adalah
satuan yang dapat didefinisikan secara fisik yang dijumpai dalam suatu rentang
tulisan (yang dibatasi oleh spasi) atau bicara (dimana identifikasi lebih sulit
lagi, tetapi mungkin ada petunjuk-petunjuk fonologis untuk mengidentifikasi
batas-batas kesenyapan atau ciri-ciri jeda).
Kata adalah
suatu bentuk bebas yang terkecil, yaitu suatu unsur yang dapat muncul
tersendiri dalam berbagai posisi dalam kalimat.
Ba’dulu, Abdul Murs dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: PT Rineka Cipta
4) FRASE
a.
Frase
adalah satuan sintaksis yang satu tingkat berada di bawah satuan klausa, atau
satu tingkat berada di atas satuan kata.
Frase lazim
didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat
nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu
fungsi sintaksis di dalam kalimat.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: RINEKA CIPTA
b. Frase
itu ialah kelompok kata.
Verhaar, J.W.M. 1988. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS
c. Frase
adalah satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak
terdiri dari subjek dan predikat.
Oka, I.G.N. dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Dirjen Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
d. Frase
adalah suatu konstruksi yang dapat dibentuk oleh dua kata atau lebih, tetapi
yang tidak mempunyai ciri konstruksi sebuah klausa dan sering pula mengisi slot
atau gatra dalam tingkat klausa.
Parera, Jos Daniel. 1980. Pengantar Linguistik Umum Bidang Sintaksis.
Flores: Nusa Indah
e. Ramlan
(1981 : 121), frase adalah satuan gramatikan yang terdiri dari dua kata atau
lebih yang tidak melampaui batas fungsi.
Ba’dulu, Abdul Murs dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: PT Rineka Cipta
5) KLAUSA
a.
Klausa merupakan tataran di dalam sintaksis yang
berada di atas tataran frase dan di bawah tataran kalimat.
Klausa
adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: RINEKA CIPTA
b.
Klausa
adalah satuan gramatikal unsure pembentuk kalimat yang berstruktur predikatif.
Oka, I.G.N. dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Dirjen Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
c. Klausa
adalah sebuah kalimat yang memenuhi salah satu pola dasar kalimat inti dengan
dua atau lebih unsur pusat.
Parera, Jos Daniel. 1980. Pengantar Linguistik Umum Bidang Sintaksis.
Flores: Nusa Indah
d. Klausa
adalah segmental kalimat yang mengandung fungsi subjek dan predikat atau
predikat saja, tetapi tidak mempunyai unsur prosodi yang berupa intonasi,
khususnya intonasi final.
Ba’dulu, Abdul Murs dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: PT Rineka Cipta
6)
KALIMAT
a. Kalimat
adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap,
merupakan definisi umum yang biasa kita jumpai.
Kalimat
adalah lafal yang tersusun dari dua buah kata atau lebih yang mengandung arti,
dan disengaja serta berbahasa Arab, dianggap sebagai definisi yang sudah baku
(Lihat Djuha 1989).
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: RINEKA CIPTA
b. Kalimat
adalah ujaran yang berisi pikiran lengkap yang tersusun dari subjek dan
predikat, dengan pengertian bahwa subjek adalah “tentang apa sesuatu dikatakan”
dan “predikat adalah apa yang dikatakan tentang subjek”.
Oka, I.G.N. dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Dirjen Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
c. Kalimat
berdasarkan tradisional gramatika adalah ungkapan dari suatu pikiran yang
lengkap.
Menurut ahli
bahasa tradisional, kalimat adalah satuan yang mempunyai sebuah subjek dan
sebuah predikat.
W. Nelson
Francis bukunya The Structure of American English, kalimat adalah ujaran yang
lancer dari seorang dimana dari ujaran tersebut kelihatan adanya jeda di antara
ujaran dan di akhir ujaran biasanya ada jeda akhir yang biasanya dikenal
sebagai intonasi final.
Kalimat
adalah unit komunikasi utama dalam bahasa.
Nikelas, Syahwin. 1988. Pengantar Linguistik untuk Guru Bahasa.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Jenderal Pendidikan Tinggi
Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
d. Kalimat
adalah sebuah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian
dari sebuah konstruksi ketatabahasaan yang lebih besar dan lebih luas.
Parera, Jos Daniel. 1980. Pengantar Linguistik Umum Bidang Sintaksis.
Flores: Nusa Indah
e. Samsuri
(1985 : 53), kalimat adalah untaian yang berstruktur dari kata.
Ramlan (1981
: 6), kalimat adalah satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang
yang disertai oleh nada akhir turun atau not.
Lado (1968 :
27), kalimat adalah satuan terkecil dari ekspresi lengkap.
Ba’dulu, Abdul Murs dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: PT Rineka Cipta
7) WACANA
a. Wacana
adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan
satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: RINEKA CIPTA
b. Wacana
adalah kaidah penggunaan yang memberikan bagaimana tuturan melaksanakan tingkah
laku sosial.
Kaseng, Sjahruddin. 1989. Linguistik Terapan : Pengantar Menuju
Pengajaran Bahasa yang Sukses. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan
c. Wacana
adalah satuan bahasa yang paling besar; satuan bahasa terlengkap; satuan bahasa
tertinggi atau terbesar, menurut Kridalaksana.
Oka, I.G.N. dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Dirjen Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
d. Soenarji,
1989, wacana adalah kombinasi kalimat yang digunakan untuk mengekspresikan
pikiran dan ide yang kompleks.
Ba’dulu, Abdul Murs dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: PT Rineka Cipta
Casino City, Queens, NY - Mapyro
BalasHapusCasino City, Queens, NY. 남양주 출장마사지 5790 Photos & 천안 출장마사지 943 Reviews. "Casino City" with 수원 출장안마 447 reviews and 804 photos. "It's been so 익산 출장샵 awesome. But I 광주 출장샵