Sebulan sudah saya
lalui disini, tempat kerja yang sesuai dengan keinginan saya. Seperti biasa,
hari-hariku disibukkan dengan pekerjaan yang saya tekuni semasa saya belajar di
universitas. Pagi ini langkah kaki saya mendarat di perusahaan penerbitan media
cetak (koran) Solo Pos. Menuju ruang kerja, dari sinilah aktivitas saya
dimulai.
“Hai, git”. Salah
seorang teman akrab saya menyapa.
“Eh, Tanti? Iya,
pagi sayang”. Jawaban saya asal nyeletuk. “Mana teman-teman yang lain? Belum
datang ya? Jam berapa sih?”.
“He’em, git. Kita
kepagian kali ya? Hahaha... Gimana kerjaan mu kemarin? Kelar kan? Maafin ya,
kemarin aku pulang duluan”.
“Udah, kok. Maklum tan,
jadi editor kan kerja akhir lembur pun udah jadi biasa. Moga-moga aja kerjaanku
pas sama persepsinya Bu Dina, kalo nggak kena semprot lagi deh. Hmm ...kerja
dua kali lagi aku, huhhh... Iya, nggak apa-apa. Kasihan kamu juga harus
nungguin aku segala.”
“Aduh, git ...udah,
jangan mikirin semprotannya Bu Dina yang penting kan kamu udah bener-bener jadi
editing yang profesional. Cieeeillleehhh, hahaha ... nungguin kamu mah, nggak
masalah non. Aku kemarin buru-buru soalnya ada janji sama si Panji.
Sssssttttttt... jangan bilang sama siapa-siapa loh, ya?”
“halah, halah ...ni
anak satu, jan tenan. Ihhhiiiiirrrr ... siapa tuh Panji? Ehem, ehem.
Makan-makan nih? Hahaha... iya, siapa bilang sih aku ember? Nggak percaya amat,
uda kenal sebulan pula.”
“Hahaha, entar aja
aku cerita sama kamu. Diem loh, ya?. Wah, udah pada datang tuh. Bener deh, kita
kepagian non.”
Ruang kerja mulai
penuh terisi orang-orang yang bekerja sesuai dengan posisinya masing-masing.
Jam dinding pun telah menunjukkan pukul 08.00, orang-orang mulai disibukkan
dengan pekerjaannya. Tidak ada yang mengatur memang, namun telah berjalan secara
alamiah dengan sendirinya sesuai prosedur perusahaan yang mengharuskan berjalan
dengan demikian.
Saya bergelut di
bidang editing, sebagai proses pekerjaan finishing dalam menyelesaikan bahan
berita yang akan dicetak sebelum menuju ke proses penerbitan dalam sebuah
perusahaan media cetak (koran).
“Hmm... memang, mau
tidak mau saya dituntut untuk cepat, tepat, tangkas, kreatif dan nggak kalah
penting lembur jadi hal biasa. Liat aja, ni mata tiap mau deadline pasti tembem
gara-gara kurang tidur. Belum lagi, kerjaanku dianggap belum bener sama Bu
Dina. Keteteran lagi buat ngedit langkah kedua, langkah darurat yang butuh
kerja ekstra hati-hati juga teliti.”
“Egita”.
Setengah ngelamun,
setengah ngantug... berat banget ni kepala, gara-gara ngedit kemarin jadi
lembur tengah malem.
“kayak ada yang
panggil aku? Iya, nggak ya?”
“Egitaaaa”.
Panggilan Bu Dina semakin jelas di telinga saya.
“Eh, iya-iya bu.
Maaf, Bu Dina. Hehe...” baru sadar, di sampingku ada Bu Dina. Lagakku malah
cengar cengir.
“Dipanggil kok
nggak jawab. Kamu ini kerja, kalo ngantug sana pulang! Tidur saja di rumah!”.
“Maa..maaf, ibu.”
“Koreksi ulang
editan kamu kemarin, ada yang kurang pas. Halaman 1 dan 2 kurang sinkron. Yang
teliti!”.
“Baik, ibu. Akan
saya cek ulang, maaf ibu.”
Bu Dina mulai
melangkah dan meninggalkan saya, tergeletak CD soft file di meja yang aku edit
tadi malam. Saya mulai bergerak, checking ulang bahan deadline minggu depan.
Pukul 11.00 tepat,
selesai sudah proses editing saya yang kedua. Cukup melelahkan, kelopak mata
ingin saya turunkan hingga mata terpejam beberapa saat sebagai penghilang
kepenatan. Saat itu jugalah, saya langkahkan kaki menuju ruang kerja Bu Dina.
Syukurlah, beliau menerimanya. Hmm ...lega sudah beban yang mengikat hingga
berujung kepenatan.
“Egita, keluar yuk?
Cari makan siang, laper nih”. Ajakan Tanti membawa gairah kembali.
“Iya, tan. Buruan
yuk, hehehe...”
“Ni anak, buru-buru
mulug. Kelaperan ya? Abis spot jantung gara-gara Bu Dina ya? Hahaha...”
“Ah, jangan bahas
itu lah”. Muka mulai cemberut, agar Tanti mengganti topik pembicaraan.
“Iya, iya nona
egita yang cantik. Jangan cemberut dong, jelek tau. Cantiknya ilang loh,”.
Kami menuju kedai
yang menyajikan beberapa menu makanan. Disinilah tempat kami makan siang hari
ini. Ada beberapa kedai yang dapat dijumpai, tak jauh dari kantor tempat saya
bekerja. Tinggal kita yang pilih, mau yang mana.
“Hayo, Panji itu
siapa? Ehem, ehem”. Saya mulai menyeletuk pembicaraan memilih topik bahasan
untuk ngobrol.
“Masih inget aja,
git. Hahaha... Panji itu temen aku waktu SMA, nggak sengaja pernah papasan di
pasar klewer”.
bersambung...
(buntu ide nih, bantu saran dong mau di bawa kemana ini ujung akhir cerita ini.. oh, menyedihkan.. sungguh terbengkalai tulisan ini.. wkwkwk B-)~)