13/05/12

Penggalan Cerita *Buntu*

Sebulan sudah saya lalui disini, tempat kerja yang sesuai dengan keinginan saya. Seperti biasa, hari-hariku disibukkan dengan pekerjaan yang saya tekuni semasa saya belajar di universitas. Pagi ini langkah kaki saya mendarat di perusahaan penerbitan media cetak (koran) Solo Pos. Menuju ruang kerja, dari sinilah aktivitas saya dimulai.
“Hai, git”. Salah seorang teman akrab saya menyapa.
“Eh, Tanti? Iya, pagi sayang”. Jawaban saya asal nyeletuk. “Mana teman-teman yang lain? Belum datang ya? Jam berapa sih?”.
“He’em, git. Kita kepagian kali ya? Hahaha... Gimana kerjaan mu kemarin? Kelar kan? Maafin ya, kemarin aku pulang duluan”.
“Udah, kok. Maklum tan, jadi editor kan kerja akhir lembur pun udah jadi biasa. Moga-moga aja kerjaanku pas sama persepsinya Bu Dina, kalo nggak kena semprot lagi deh. Hmm ...kerja dua kali lagi aku, huhhh... Iya, nggak apa-apa. Kasihan kamu juga harus nungguin aku segala.”
“Aduh, git ...udah, jangan mikirin semprotannya Bu Dina yang penting kan kamu udah bener-bener jadi editing yang profesional. Cieeeillleehhh, hahaha ... nungguin kamu mah, nggak masalah non. Aku kemarin buru-buru soalnya ada janji sama si Panji. Sssssttttttt... jangan bilang sama siapa-siapa loh, ya?”
“halah, halah ...ni anak satu, jan tenan. Ihhhiiiiirrrr ... siapa tuh Panji? Ehem, ehem. Makan-makan nih? Hahaha... iya, siapa bilang sih aku ember? Nggak percaya amat, uda kenal sebulan pula.”
“Hahaha, entar aja aku cerita sama kamu. Diem loh, ya?. Wah, udah pada datang tuh. Bener deh, kita kepagian non.”
Ruang kerja mulai penuh terisi orang-orang yang bekerja sesuai dengan posisinya masing-masing. Jam dinding pun telah menunjukkan pukul 08.00, orang-orang mulai disibukkan dengan pekerjaannya. Tidak ada yang mengatur memang, namun telah berjalan secara alamiah dengan sendirinya sesuai prosedur perusahaan yang mengharuskan berjalan dengan demikian.
Saya bergelut di bidang editing, sebagai proses pekerjaan finishing dalam menyelesaikan bahan berita yang akan dicetak sebelum menuju ke proses penerbitan dalam sebuah perusahaan media cetak (koran).
“Hmm... memang, mau tidak mau saya dituntut untuk cepat, tepat, tangkas, kreatif dan nggak kalah penting lembur jadi hal biasa. Liat aja, ni mata tiap mau deadline pasti tembem gara-gara kurang tidur. Belum lagi, kerjaanku dianggap belum bener sama Bu Dina. Keteteran lagi buat ngedit langkah kedua, langkah darurat yang butuh kerja ekstra hati-hati juga teliti.”
“Egita”.
Setengah ngelamun, setengah ngantug... berat banget ni kepala, gara-gara ngedit kemarin jadi lembur tengah malem.
“kayak ada yang panggil aku? Iya, nggak ya?”
“Egitaaaa”. Panggilan Bu Dina semakin jelas di telinga saya.
“Eh, iya-iya bu. Maaf, Bu Dina. Hehe...” baru sadar, di sampingku ada Bu Dina. Lagakku malah cengar cengir.
“Dipanggil kok nggak jawab. Kamu ini kerja, kalo ngantug sana pulang! Tidur saja di rumah!”.
“Maa..maaf, ibu.”
“Koreksi ulang editan kamu kemarin, ada yang kurang pas. Halaman 1 dan 2 kurang sinkron. Yang teliti!”.
“Baik, ibu. Akan saya cek ulang, maaf ibu.”
Bu Dina mulai melangkah dan meninggalkan saya, tergeletak CD soft file di meja yang aku edit tadi malam. Saya mulai bergerak, checking ulang bahan deadline minggu depan.
Pukul 11.00 tepat, selesai sudah proses editing saya yang kedua. Cukup melelahkan, kelopak mata ingin saya turunkan hingga mata terpejam beberapa saat sebagai penghilang kepenatan. Saat itu jugalah, saya langkahkan kaki menuju ruang kerja Bu Dina. Syukurlah, beliau menerimanya. Hmm ...lega sudah beban yang mengikat hingga berujung kepenatan.
“Egita, keluar yuk? Cari makan siang, laper nih”. Ajakan Tanti membawa gairah kembali.
“Iya, tan. Buruan yuk, hehehe...”
“Ni anak, buru-buru mulug. Kelaperan ya? Abis spot jantung gara-gara Bu Dina ya? Hahaha...”
“Ah, jangan bahas itu lah”. Muka mulai cemberut, agar Tanti mengganti topik pembicaraan.
“Iya, iya nona egita yang cantik. Jangan cemberut dong, jelek tau. Cantiknya ilang loh,”.
Kami menuju kedai yang menyajikan beberapa menu makanan. Disinilah tempat kami makan siang hari ini. Ada beberapa kedai yang dapat dijumpai, tak jauh dari kantor tempat saya bekerja. Tinggal kita yang pilih, mau yang mana.
“Hayo, Panji itu siapa? Ehem, ehem”. Saya mulai menyeletuk pembicaraan memilih topik bahasan untuk ngobrol.
“Masih inget aja, git. Hahaha... Panji itu temen aku waktu SMA, nggak sengaja pernah papasan di pasar klewer”. 

bersambung...
(buntu ide nih, bantu saran dong mau di bawa kemana ini ujung akhir cerita ini.. oh, menyedihkan.. sungguh terbengkalai tulisan ini.. wkwkwk B-)~)

0 komentar:

Posting Komentar

 
art . ekspression . culture Blogger Template by Ipietoon Blogger Template