“Petak
Umpet Terkutuk”
~Arifah
Nian E.~
Angin
semerbak, jalan berdebu.
Hanya
seseorang saja yang berjalan sendiri.
Persimpangan jalan menghentikan
langkahnya, tubuhnya kaku dan perlahan ia menengok sesuatu yang mungkin
mengikutinya.
Hanya
pikirannya yang menjelajah, kebimbangan, ketakutan yang tidak beralasan.
Tubuhnya
mulai tak bisa digerakkan, keringatnya mengucur.
Terpaan
angin menyapu wajahnya yang mulus, isyaratkan ketakutannya.
§
Giska
tidak sedang melakukan apapun, kurasa dia sedang melamunkan sesuatu yang kini
mengganggu pikirannya bahkan dalam tidurnya. Lihat saja kesendiriannya, sunyi,
senyap dengan ditemani bau kegempitaan sosok malam. Terdengar sesahutan sibakan
angin yang menerpa pohon, tetumbuhan yang tetap tertahan di tempatnya.
Bersikukuh mempertahankan diri dari terjangan angin yang kian dan terus
menghujam. Dan hingga saatnya terhenti sesuai dengan kemauannya, keinginannya,
dan juga kebebasannya menurut karma alam. Padahal sudah malam, oh tidak..
tengah malam. Jam dua belas malam Giska masih termanggu tak kunjung berangkat
ke ranjang empuknya.
Ada
sesuatu yang mengganggu pikirannya, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat
dari kondisi normal. Ia mengingat sesuatu yang seharusnya ia lupakan dalam
ingatan, bila perlu menghapusnya dari memori otaknya. Tidak bisa, mana mungkin
menghapus ingatan? Giska terkulai lemah, keringat dingin membasahi tubuhnya,
dan pandangannya mulai lamur… kabur… dan gelap, tak terlihat apapun.
Masa
sekolah memang menyenangkan, apalagi bermain bersama teman-teman membuat lupa
waktu. Aku Giska Nurmala, teman-teman sebayaku lebih suka memanggilku Giska.
Ledekan yang kerap membuatku jengkel dan masih saja mereka menyebut nama itu
berulang, Giska si penakut. Apa benar aku penakut? Tentu saja tidak, hanya saja
gelap yang membuatku sesak napas seperti ada sesuatu yang mencekikku ada
kalanya dalam kegelapan aku seperti diuntit seorang misterius. Kenapa mereka
selalu menyebutku penakut? Aku tidak pernah takut pada kalian, orang-orang,
siang hari, tumbuhan, hewan buas pun aku tak takut, kecuali gelap.
Gelap,
warna hitam yang tidak berujung atau tidak berbatas selalu membuatku terjaga
dan terus terjaga hingga aku dewasa saat ini, yaa sekarang ini. Kau tau, apa
yang kumaksudkan? Macam phobia, bak
ketakutan, traumatis, atau kebiasaan? Ini soal keterjagaanku jika listrik
padam. Kegelapan ini, tanpa secercah cahaya yang mengelilingi ketika malam
membuatku seakan sulit bernapas, sesak, berdesakan atau apalah yang pada
intinya aku merasa tersesat dalam suatu hutan yang gelap gulita tak ada
siapapun tak ada apapun dan hanya aku yang limbung entah tak tahu dalam
kebingungan dalam kesendirian.
Tiap
aku melihat malam, aku teringat mimpiku atau kisah masa kecilku tentang suatu
ketakutan, suatu kegelapan, suatu yang berhubungan dengan warna kehitaman. Tak
jelas di mata, membuat pupil mata ini
melebarkan dan hendak melebarkan guna memastikan hal yang ada di depannya,
memastikan penglihatan tidaklah salah. Seperti kali ini, aku mengingatnya
kembali. Aku terjebak dalam ketakutan yang tidak beralasan, seperti tersesat di
suatu dunia dimensi jauh dari kehidupanku yang sebenarnya. Ini nyata, ataukah
mimpiku dalam ketakutan? Aku sendiripun tidak dapat menafsirkannya.
§
Suatu
ketika di umurku masih sepuluh tahun, saat kegembiraan menyelimuti pada anak
usia ini tentunya. Tidak ada yang aneh, tidak ada bedanya dengan anak-anak yang
lain, pastilah bermain menjadi salah satu kesenangan yang membuat kita mencapai
suatu euphoria yang tidak
tertandingi. Berimajinasi, utak-atik mainan ini itu, dan tentunya bersama-sama
dengan teman-teman.
Di
suatu malam ba’da shalat tarawih, aku berkumpul dengan teman-teman
sepermainanku. Malam-malam bermain? Ya, memang. Tepatnya di Bulan Ramadhan yang
selalu aku rindukan, salah satunya permainan ini yang begitu menyenangkan.
Orang pasti menganggap permainan ini biasa saja, tapi tidak untuk aku dan
teman-temanku. Permainan ini memiliki macam kerinduan bagi pemain-pemainnya,
terlebih dimainkan malam hari selepas shalat tarawih.
Sorak
sorai teman-teman begitu antusias, cerocosan,
dagelan, blak-blakan humor kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Merekalah teman-teman sepermainanku yang hobi bercanda, jail dan suka
main-main.
“Giska,
ayo main petak umpet”, teriak teteh Defi waktu aku beranjak dari barisan shaf
tempat sujudku selepas shalat tarawih.
“Iya
teh”, jawabku tak menggubris sambil melipat mukena.
Sekelompok
anak telah berkumpul diperempatan jalan dekat masjid, tak jelas apa saja yang
mereka perbincangkan namun yang jelas mereka amat gaduh. Tertawa mereka renyah,
hingga salah seorang nenek paruh baya menghentikan perilaku mereka.
“Budak,
kunaon ribut? Ulah ulin wae di luar, geura balik sareupna.”, teguran sang nenek
yang membuat malam kembali hening ditambah raut mukanya yang muram dan mendung.
Nenek
itu berlalu, begitu pula seluruh jamaah telah berjalan menjauh dari peribadatan
untuk menuju kediaman mereka masing-masing. Tinggallah kami, sekelompok
anak-anak yang gila, melakukan permainan petak umpet di malam hari.
Kami
mulai bermain. Selain aku, inilah teman-teman yang tengah bermain permainan
gila ini. Teteh Defi, anak perempuan paling tua dari semua anak-anak di desa
kami. Dia kakak kelasku, teteh Defi kelas tiga SMA sedangkan aku kelas dua SMA.
Tiap kali berangkat sekolah kami selalu bersama, berboncengan sepeda buntut
miliknya yang setia menemani ia kemanapun tujuannya. Teteh Defi tidak pernah
mengeluh, tidak pernah bersedih, padahal orang tuanya sudah tidak lagi
bersamanya dan ia hanya tinggal bersama dengan neneknya yang sudah renta itu.
Hidupnya penuh semangat, dia pintar. Yang selalu membuatku iri, teh Defi selalu
saja tersenyum dalam keadaan apapun, keadaan paling sulit sekalipun dia tidak
pernah menangis. Sungguh, aku bangga punya teman sekaligus sahabat terbaik dan
selalu menginspirasiku dalam kehidupan.
Adit,
anak laki-laki yang usianya sekitar di bawah usiaku saat itu yang sepantaran
dengan Doni. Pribadinya menyenangkan, mudah bergaul dengan orang lain karena
kekonyolannya yang tidak pernah habis, ada saja bahan yang diperbincangkannya. Tubuhnya
mungil, kulitnya putih bersih, rambutnya ikal dan wajahnya innocent. Doni tidak jauh berbeda dengan anak yang satu tadi,
sosoknya tinggi kurus dan selalu menyeringai seperti kuda. Tingkahnya sama saja
dengan Adit, pemancing tawa diantara kita semua. Kemudian Tito, teman sekelasku
yang baik hati kepada siapapun. Bahkan aku dibuatnya heran, di suatu ketika
saat jam istirahat di sekolah Tito hanya berada di kelas dan tidak ada
tanya-tanya dirinya melangkah ke kantin. Duduk termenung di bangkunya, dengan
pandangan mata yang mengarah ke luar jendela, namun pandangannya kabur dan
kurasa dia melamun tak jelas. Seorang anak perempuan mendekatinya, membuyarkan
lamunannya dan terlihat dia tersentak kaget. Meski bangkuku dengan bangku Tito
berjarak satu baris kursi, tentu perbincangan mereka terdengar olehku. Anak
perempuan itu, Nina namanya minta uang kepada Tito dengan alasan uang sakunya
tertinggal di rumah sehingga ia tidak bisa jajan di kantin. Sebenarnya aku
tahu, si Nina itu bohong. Jelas-jelas pagi tadi ia sarapan di kantin sekolah
dan beli makanan ringan lebih dari satu. Tito mana tahu? Nih anak terkenal
super baik, tanpa pikir panjang dirogohnya saku celananya dan memberi Nini uang
kertas lima ribuan. Belum lagi, di sekolah Tito terkenal pendiam sehingga
teman-teman sering mempermainkannya, menjahilinya, menjadikan dia bahan
tertawaan yang sebenarnya tidak pantas mereka lakukan. Apakah Tito tidak stress
ya? Terlihat dia baik-baik saja, tidak pernah mengeluh ataupun membahas
teman-teman yang menjahilinya. Tito sosok yang tangguh, super baik, rajin
ibadah, apalagi dia ramah selalu tersenyum kepada siapapun.
Begitu
juga Teteh Sasa, dia temanku sekelas di sekolah. Kami sebaya, kenapa memanggil teteh?
Ya, sudah bisa ditebak kalau teh Sasa lebih tua dari umurku. Dia memang baik
seperti teman-temanku yang lain, tetapi sayangnya teh Sasa itu menyebalkan
karena sifatnya yang egois dan tidak pernah mengindahkan nasihat dari orang
lain. Pribadinya cenderung tertutup, tapi aku lihat dia berusaha beradaptasi
dengan kami, teman-temannya yang selalu dekat dengannya meski pribadinya yang
seringkali menjengkelkan.
Mereka
teman-temanku, lebih tepatnya sahabat-sahabatku yang terbaik yang hadir di
kehidupanku. Tidak hanya suka saja yang kami lalui bersama, tapi dukapun kami
hadapi bersama meski itu sulit dan seringkali membuat kami putus asa dan pupus
harapan di tengah jalan. Mereka seperti udara, yang sangat penting untuk kita
bernapas, untuk kita hidup. Ada kalanya kita nempel seperti perangko, ada
kalanya kita berjauhan seperti dipisahkan jurang. Itulah persahabatan, tidaklah
selalu mulus adakalanya hambatan menghadang. Namun tetap saja, selalu kembali
dan kembali bersama.
Permulaan
permainan dengan hombreng, seperti
suit lebih dari dua orang dengan bolak-balik telapak tangan hingga temukan yang
terakhir dan dialah yang kalah. Menjadi sang penjaga sekaligus mencari
persembunyian teman-teman yang lain agar tahtanya dapat dipindahkan kepada
teman lain yang ia temukan persembunyiaannya.
Setelah
melewati perseteruan sengit, egoisitas yang membara mempertahankan telapak
tangan mereka dalam posisi aman dan terkendali, akhirnya, Doni adalah sang
penjaganya. Pyar, bak gelas jatuh dengan serpihan kaca yang berpencar tak tentu
arah.. aku dan teman-teman lari mencari persembunyian setelah Doni berhitung
dari angka satu sampai dengan sepuluh.
Tak
sadar aku berlari menuju tempat gelap, di balik pagar tembok rumah tetangga
dengan pencahayaan redup di teras rumahnya. Tengak-tengok, ke kanan, kiri,
depan, belakang dan aku merasa gelisah, aku sendirian. Sayup-sayup kudengar,
Doni berteriak, “Hei, kalian dimana?”. Sunyi, tak ada sahutan sama sekali,
hanya angin yang menampar-nampar pepohonan. Kurasa aku tidak dapat mendengar
apapun, hanya suaranya sendiri yang memekik di kegelapan.
Di
rumah itu, tepatnya di depan rumah itu tak ada apapun. Kegelapan, warna hitam
mencekam, mataku pun tak dapat melihat jelas sekitarku kecuali setitik warna
kuning cahaya lampu lima watt saja. Di balik pagar tembok yang menghadap ke jalan, aku berjongkok
menanti-nanti Doni atau teman-teman lain menerka persembunyiaanku. Lama
menunggu, dan sangatlah terasa lama seperti aku tersesat di suatu tempat yang
tak kukenal dan aku tak dapat kembali atau mungkin aku hilang arah dalam
kebingungan yang semakin membuatku takut dan takut. Kakiku semakin menunjukkan
ketidaktahanannya dalam posisiku yang berjongkok, yah.. aku merasa kesemutan.
Dalam kegelisahanku dan kesendirianku di tempat persembunyian yang mungkin
tidak terjangkau oleh teman-temanku, di kegelapan itu aku seperti dipantau oleh
sesuatu atau seseorang yang menurutku tidak tertangkap pandangan manusia,
mungkin tak terlihat atau tidak menampakkan diri. Keringat dingin mengucur dari
seluruh tubuhku, bak sebesar biji-biji jagung yang menggelinding. Kepanikan
semakin menjadi, menggigil, mata setajam pandangan singa hutan yang sigap
memangsa, aku bergiding di tempat. Apa ini? Aku kebingungan, limbung,
kehilangan akal sehatku dalam sekejap. Aku termakan dalam gelap, monster hitam
mengepul bagai asap tak tahu seberapa tinggi namun mata ini tak dapat
menjangkau sosoknya yang paling ujung menjulang ke langit. Melingkupiku,
memakanku, aku terbenam di dalamnya, mungkin benar atau hanya mimpiku sesaat
kala itu.
Pastilah
semua orang bertanya-tanya, kenapa kau tidak lari jika perlu berteriak saja
sekencang-kencangnya kawan. Nyatanya tidak dapat kulakukan, tidak ada yang bisa
kuperbuat, hanya mematung seperti patung tak bernyawa. Badanku dingin seperti
mayat hidup, jalanku tertatih, aku mulai beranjak memberanikan diri
meninggalkan tempat terkutuk itu. Meski susah payah, yang memang aku semakin
payah. Ujung kaki hingga ubun-ubun mati rasa, langkahku tidaklah tegak seperti
akan terjatuh, masih saja dalam keadaan bergetar, dan keringatku mengalir
derasnya seperti usai lari marathon.
Seakan
menjerit dalam hati, “Hei, teman-teman tolong aku! Kalian kemana? Jangan
tinggalkan aku sendirian. Aku takut, aku takut, aku takuuutttt!!!”. Namun
bibirku terkatup rapat tidak ada sepatah kata pun terucap, bergumam pun tidak.
Keinginanku hanya satu, sampai di rumah. Aku ingin pulang, minatku bermain
petak umpet gila itu lepaslah sudah. Tidak ingin kulanjutkan, hingga
teman-temanku tak tahu kalau aku telah menghilang dari permainan dan
meninggalkan mereka karena keegoisanku dengan mendahului mereka pulang. Tak
peduli, terserahlah, pikiranku kalut saat itu, masih dalam keadaan yang
diambang frustasi, trauma, tanpa daya.
Jeritanpun
tak mempan, mungkin tak terdengar oleh teman-temanku. Apakah aku ditinggal
pulang? Apa mereka lupa kepadaku yang masih bersembunyi? Pikiranku campur aduk
tidak karuan. “Temukan aku, teman-teman”, isakanku yang nelangsa seperti anak
kecil minta permen kepada ibunya.
§
Kurasa
cukup lama Giska terjebak dalam ketakutannya, teman-temannya cukup lama pula
mencari dirinya. “Giska, Giska.. kamu dimana? Udahlah keluar aja, kami nyerah
gak bisa temuin kamu”, teriak Tito yang tak henti-hentinya pangil-panggil nama Giska.
Teteh Defi, Adit, Doni, Teteh Sasa juga menampakkan kegelisahannya dan tidak
henti-hentinya menggerutu. Dan akhirnya mereka pun saling menyalahkan, dan
sedikit pertengkaran yang tidak enak dipandang itu. Mereka tidak tahu,
sebenarnya mereka tidaklah salah dan tidak perlu mempermasalahkan dan
memperdebatkan pencarian Giska. Seharusnya mereka mengatur strategi berpencar
untuk bersama-sama mencari Giska, sebelum malam semakin larut. Itu usul yang
bagus, strategi pencarian seperti detektif yang sering kita lihat di film-film
Hollywood.
Di
sisi lain, Giska masih saja duduk berjongkok di tempat persembunyian terkutuk
itu. Apa dia tidak bisa bergerak atau bagaimana? Jika memang takut, kenapa
tidak lari dan meninggalkan tempat itu? Isakan tangis Giska tak terespon
siapapun, kecuali angin yang menderu dan sibakan dedaunan di pepohonan sekitar
dia berada. Di saat seperti ini, Giska teringat perkataan dari bunda
tercintanya. Perkataan yang mungkin didengar olehnya tapi tidak digubris dan
hanya berlalu di telinga saja. Kali ini mungkin Giska menyesal, tidak menuruti
perkataan mujarab bundanya. Ifah berkali-kali merajuk ketika bundanya melarang
bermain di luar ketika malam hari, tepatnya tiap kali bulan Ramadhan seperti
ini. Bundanya mengizinkan jika kegiatan bermainnya lebih baik ia gunakan untuk tadarus-an atau membaca Al-Quran bersama
teman-temannya. Itu jauh lebih baik dan bermakna bahkan berpahala jika
disbanding bermain petak umpet yang hanya untuk kesenangan saja.
Air
mata Giska membanjiri pelupuk matanya yang kecil nan sipit, Giska seringkali
disebut anak cina oleh teman-temannya. Menangis tidaklah sebuah kesalahan,
memang wajar dan terkadang perlu untuk mengungkapkan isi hati. Tidak hanya
menangis, kali ini mulutnya terus terucap menyebut-nyebut nama “bunda, bunda,
bunda” yang tak kunjung berhenti. Kelakuan Giska ini, membuat teringat cerita
anak yang tokohnya anak anjing yang kehilangan induknya dalam suatu keramaian
manusia.
Teteh
Defi, Adit, Doni, Teteh Sasa, Tito ternyata melakukan siasat itu, mereka
berhenti berdebat dan ide cemerlang inilah yang terlintas di benak Tito. Keenam
anak ini sepakat, berembug dan akhirnya berpencar yang masing-masing arah dua
orang.
Malam
masih saja sunyi, tak mau diganggu dan sibuk dengan dirinya sendiri,
menyendiri. Terang, memang terang, namun hanya secercah cahaya lampu jalanan
dan satu-dua rumah yang terlihat kilatan sinar. Suara jangkrik yang merdu, kekhasannya
seperti ingin mengajak kita untuk bernyanyi, menyapanya, dan mengajak kita
menari bersama. Atau mungkin mengajak kita untuk segera tidur, seperti melodi
pengantar tidur yang setia menemani hingga kita terlelap dalam mimpi indah.
Mereka
berenam melangkah dan tak henti-hentinya mulut mereka memanggil-manggil nama Giska.
Mereka mulai lelah, tak kunjung menemukan Giska. Kenapa Giska memilih
persembunyian tak terjangkau temannya dan lebih jauh? Ah, Giska ingin
persembunyiaannya aman dan tidak dapat ditemukan teman-temannya. Tapi, kalau
sudah begini akhirnya semua teman-temannya kelimpungan mencari dirinya.
Panggilan
mereka menyurut, terengah-engah dan napas tersengal. Memutuskan sejenak
melangkah perlahan, berhenti memanggil Giska.
“The,
teteh Defi”, panggil Adit dari jarak tiga meter dan lambaian tangan yang
diarahkan kepada teh Defi yang berjalan lebih lambat.
Teteh
Defi berlari kecil dan mendekat. “Ada apa dit?”, katanya setengah berbisik.
“Aku
dengar tangisan dari balik pagar tembok ini teh, kamu dengar gak?”, ungkap Adit
agak ragu-ragu dan mengeryitkan dahi.
“Ah, mana
sih dit? Teteh gak dengar kok”, teteh Defi keheranan.
“Coba deh
teteh agak dekat pagar, dengar baik-baik. Aku gak salah dengar kok.”
“Sebentar”,
kata Teteh Defi sambil mendekatkan dirinya sepuluh centi meter lebih dekat dan
telinganya seperti tertempel.
“Iya,
dit. Siapa ya, malam-malam begini menangis di situ? Apa mungkin Giska?”
Keduanya
saling berpandangan, mata mereka bertemu, mematung tak bergerak sedetik. “Hah, Giska…
Giska!” Mbak Defi dan Adit secara tidak sengaja memanggil nama Giska dengan
serempak.
Giska
terperanjat, nyawanya mulai berkumpul menyadarkan dirinya. Hatinya mulai lega,
fisiknya yang lunglai mulai bertenaga, ketakutan yang membelenggunya mulai
sirna sesaat. Giska mengenal suara itu, suara Teteh Defi dan Adit. Ah, Giska
selamat. Giska ditemukan teman-temannya.
Giska
berdiri, dan berusaha membuka mulutnya untuk bersuara. “Teteh Defi, Adit… Giska
di sini, Giska di sini, tolong Giska… Giska takut.”
Giska
berhasil berkata-kata, mungkin dia berusaha keras agar suaranya terdengar.
Namun suara keterpaksaannya itu lebih tepat jika dia sedang merintih dalam
tangis.
Giska
mulai tersadar, perlahan mata sipitnya mulai terbit. Tak sadar dirinya terlelap
dalam mimpi, yang mengingatkannya pada kelemahan dirinya yang membuatnya
terpuruk jika mengingat dan mengingatnya. Seperti kala itu, mimpinya terus saja
terulang dari kisah buruknya yang membuatnya phobia kegelapan. Ah sungguh
miris, Giska.. dirimu harusnya bisa mengendalikan dirimu, melawan ketakutanmu
sendiri, dan jangan lari terus menerus dari ketakutanmu itu.
Sejak
saat itulah, aku selalu terjaga dalam kegelapan, terlebih jika listrik padam.
Mataku
tak dapat terpejam.
Begitu juga di saat aku tertidur,
entah kenapa instingku tahu dengan respon cepat aku tiba-tiba bangun seperti
orang yang terkejut dan terbangun dalam tidurnya karena mimpi buruk.
Sebisa mungkin aku mengendalikan
diriku agar tidak takut, berpikir positif, dzikir, dan membuka pembicaraan
dengan orang sekitarku.
Tetap saja ketakutan itu masihlah
selalu hadir, dan sosok hitam tak jelas itu juga selalu hadir pada pandanganku
dengan intaian tajamnya yang menghujam jantung.
Seperti
bercerita pada diri sendiri.
§§§
0 komentar:
Posting Komentar