16/05/12

Cerpen "Petak Umpet Terkutuk"


Petak Umpet Terkutuk
~Arifah Nian E.~

Angin semerbak, jalan berdebu.
Hanya seseorang saja yang berjalan sendiri.
Persimpangan jalan menghentikan langkahnya, tubuhnya kaku dan perlahan ia menengok sesuatu yang mungkin mengikutinya.
Hanya pikirannya yang menjelajah, kebimbangan, ketakutan yang tidak beralasan.
Tubuhnya mulai tak bisa digerakkan, keringatnya mengucur.
Terpaan angin menyapu wajahnya yang mulus, isyaratkan ketakutannya.
§

Giska tidak sedang melakukan apapun, kurasa dia sedang melamunkan sesuatu yang kini mengganggu pikirannya bahkan dalam tidurnya. Lihat saja kesendiriannya, sunyi, senyap dengan ditemani bau kegempitaan sosok malam. Terdengar sesahutan sibakan angin yang menerpa pohon, tetumbuhan yang tetap tertahan di tempatnya. Bersikukuh mempertahankan diri dari terjangan angin yang kian dan terus menghujam. Dan hingga saatnya terhenti sesuai dengan kemauannya, keinginannya, dan juga kebebasannya menurut karma alam. Padahal sudah malam, oh tidak.. tengah malam. Jam dua belas malam Giska masih termanggu tak kunjung berangkat ke ranjang empuknya.
Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari kondisi normal. Ia mengingat sesuatu yang seharusnya ia lupakan dalam ingatan, bila perlu menghapusnya dari memori otaknya. Tidak bisa, mana mungkin menghapus ingatan? Giska terkulai lemah, keringat dingin membasahi tubuhnya, dan pandangannya mulai lamur… kabur… dan gelap, tak terlihat apapun.
Masa sekolah memang menyenangkan, apalagi bermain bersama teman-teman membuat lupa waktu. Aku Giska Nurmala, teman-teman sebayaku lebih suka memanggilku Giska. Ledekan yang kerap membuatku jengkel dan masih saja mereka menyebut nama itu berulang, Giska si penakut. Apa benar aku penakut? Tentu saja tidak, hanya saja gelap yang membuatku sesak napas seperti ada sesuatu yang mencekikku ada kalanya dalam kegelapan aku seperti diuntit seorang misterius. Kenapa mereka selalu menyebutku penakut? Aku tidak pernah takut pada kalian, orang-orang, siang hari, tumbuhan, hewan buas pun aku tak takut, kecuali gelap.
Gelap, warna hitam yang tidak berujung atau tidak berbatas selalu membuatku terjaga dan terus terjaga hingga aku dewasa saat ini, yaa sekarang ini. Kau tau, apa yang kumaksudkan? Macam phobia, bak ketakutan, traumatis, atau kebiasaan? Ini soal keterjagaanku jika listrik padam. Kegelapan ini, tanpa secercah cahaya yang mengelilingi ketika malam membuatku seakan sulit bernapas, sesak, berdesakan atau apalah yang pada intinya aku merasa tersesat dalam suatu hutan yang gelap gulita tak ada siapapun tak ada apapun dan hanya aku yang limbung entah tak tahu dalam kebingungan dalam kesendirian.
Tiap aku melihat malam, aku teringat mimpiku atau kisah masa kecilku tentang suatu ketakutan, suatu kegelapan, suatu yang berhubungan dengan warna kehitaman. Tak jelas di mata, membuat pupil mata ini melebarkan dan hendak melebarkan guna memastikan hal yang ada di depannya, memastikan penglihatan tidaklah salah. Seperti kali ini, aku mengingatnya kembali. Aku terjebak dalam ketakutan yang tidak beralasan, seperti tersesat di suatu dunia dimensi jauh dari kehidupanku yang sebenarnya. Ini nyata, ataukah mimpiku dalam ketakutan? Aku sendiripun tidak dapat menafsirkannya.
§
Suatu ketika di umurku masih sepuluh tahun, saat kegembiraan menyelimuti pada anak usia ini tentunya. Tidak ada yang aneh, tidak ada bedanya dengan anak-anak yang lain, pastilah bermain menjadi salah satu kesenangan yang membuat kita mencapai suatu euphoria yang tidak tertandingi. Berimajinasi, utak-atik mainan ini itu, dan tentunya bersama-sama dengan teman-teman.
Di suatu malam ba’da shalat tarawih, aku berkumpul dengan teman-teman sepermainanku. Malam-malam bermain? Ya, memang. Tepatnya di Bulan Ramadhan yang selalu aku rindukan, salah satunya permainan ini yang begitu menyenangkan. Orang pasti menganggap permainan ini biasa saja, tapi tidak untuk aku dan teman-temanku. Permainan ini memiliki macam kerinduan bagi pemain-pemainnya, terlebih dimainkan malam hari selepas shalat tarawih.
Sorak sorai teman-teman begitu antusias, cerocosan, dagelan, blak-blakan humor kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Merekalah teman-teman sepermainanku yang hobi bercanda, jail dan suka main-main.
“Giska, ayo main petak umpet”, teriak teteh Defi waktu aku beranjak dari barisan shaf tempat sujudku selepas shalat tarawih.
“Iya teh”, jawabku tak menggubris sambil melipat mukena.
Sekelompok anak telah berkumpul diperempatan jalan dekat masjid, tak jelas apa saja yang mereka perbincangkan namun yang jelas mereka amat gaduh. Tertawa mereka renyah, hingga salah seorang nenek paruh baya menghentikan perilaku mereka.
“Budak, kunaon ribut? Ulah ulin wae di luar, geura balik sareupna.”, teguran sang nenek yang membuat malam kembali hening ditambah raut mukanya yang muram dan mendung.
Nenek itu berlalu, begitu pula seluruh jamaah telah berjalan menjauh dari peribadatan untuk menuju kediaman mereka masing-masing. Tinggallah kami, sekelompok anak-anak yang gila, melakukan permainan petak umpet di malam hari.
Kami mulai bermain. Selain aku, inilah teman-teman yang tengah bermain permainan gila ini. Teteh Defi, anak perempuan paling tua dari semua anak-anak di desa kami. Dia kakak kelasku, teteh Defi kelas tiga SMA sedangkan aku kelas dua SMA. Tiap kali berangkat sekolah kami selalu bersama, berboncengan sepeda buntut miliknya yang setia menemani ia kemanapun tujuannya. Teteh Defi tidak pernah mengeluh, tidak pernah bersedih, padahal orang tuanya sudah tidak lagi bersamanya dan ia hanya tinggal bersama dengan neneknya yang sudah renta itu. Hidupnya penuh semangat, dia pintar. Yang selalu membuatku iri, teh Defi selalu saja tersenyum dalam keadaan apapun, keadaan paling sulit sekalipun dia tidak pernah menangis. Sungguh, aku bangga punya teman sekaligus sahabat terbaik dan selalu menginspirasiku dalam kehidupan.
Adit, anak laki-laki yang usianya sekitar di bawah usiaku saat itu yang sepantaran dengan Doni. Pribadinya menyenangkan, mudah bergaul dengan orang lain karena kekonyolannya yang tidak pernah habis, ada saja bahan yang diperbincangkannya. Tubuhnya mungil, kulitnya putih bersih, rambutnya ikal dan wajahnya innocent. Doni tidak jauh berbeda dengan anak yang satu tadi, sosoknya tinggi kurus dan selalu menyeringai seperti kuda. Tingkahnya sama saja dengan Adit, pemancing tawa diantara kita semua. Kemudian Tito, teman sekelasku yang baik hati kepada siapapun. Bahkan aku dibuatnya heran, di suatu ketika saat jam istirahat di sekolah Tito hanya berada di kelas dan tidak ada tanya-tanya dirinya melangkah ke kantin. Duduk termenung di bangkunya, dengan pandangan mata yang mengarah ke luar jendela, namun pandangannya kabur dan kurasa dia melamun tak jelas. Seorang anak perempuan mendekatinya, membuyarkan lamunannya dan terlihat dia tersentak kaget. Meski bangkuku dengan bangku Tito berjarak satu baris kursi, tentu perbincangan mereka terdengar olehku. Anak perempuan itu, Nina namanya minta uang kepada Tito dengan alasan uang sakunya tertinggal di rumah sehingga ia tidak bisa jajan di kantin. Sebenarnya aku tahu, si Nina itu bohong. Jelas-jelas pagi tadi ia sarapan di kantin sekolah dan beli makanan ringan lebih dari satu. Tito mana tahu? Nih anak terkenal super baik, tanpa pikir panjang dirogohnya saku celananya dan memberi Nini uang kertas lima ribuan. Belum lagi, di sekolah Tito terkenal pendiam sehingga teman-teman sering mempermainkannya, menjahilinya, menjadikan dia bahan tertawaan yang sebenarnya tidak pantas mereka lakukan. Apakah Tito tidak stress ya? Terlihat dia baik-baik saja, tidak pernah mengeluh ataupun membahas teman-teman yang menjahilinya. Tito sosok yang tangguh, super baik, rajin ibadah, apalagi dia ramah selalu tersenyum kepada siapapun.
Begitu juga Teteh Sasa, dia temanku sekelas di sekolah. Kami sebaya, kenapa memanggil teteh? Ya, sudah bisa ditebak kalau teh Sasa lebih tua dari umurku. Dia memang baik seperti teman-temanku yang lain, tetapi sayangnya teh Sasa itu menyebalkan karena sifatnya yang egois dan tidak pernah mengindahkan nasihat dari orang lain. Pribadinya cenderung tertutup, tapi aku lihat dia berusaha beradaptasi dengan kami, teman-temannya yang selalu dekat dengannya meski pribadinya yang seringkali  menjengkelkan.
Mereka teman-temanku, lebih tepatnya sahabat-sahabatku yang terbaik yang hadir di kehidupanku. Tidak hanya suka saja yang kami lalui bersama, tapi dukapun kami hadapi bersama meski itu sulit dan seringkali membuat kami putus asa dan pupus harapan di tengah jalan. Mereka seperti udara, yang sangat penting untuk kita bernapas, untuk kita hidup. Ada kalanya kita nempel seperti perangko, ada kalanya kita berjauhan seperti dipisahkan jurang. Itulah persahabatan, tidaklah selalu mulus adakalanya hambatan menghadang. Namun tetap saja, selalu kembali dan kembali bersama.
Permulaan permainan dengan hombreng, seperti suit lebih dari dua orang dengan bolak-balik telapak tangan hingga temukan yang terakhir dan dialah yang kalah. Menjadi sang penjaga sekaligus mencari persembunyian teman-teman yang lain agar tahtanya dapat dipindahkan kepada teman lain yang ia temukan persembunyiaannya.
Setelah melewati perseteruan sengit, egoisitas yang membara mempertahankan telapak tangan mereka dalam posisi aman dan terkendali, akhirnya, Doni adalah sang penjaganya. Pyar, bak gelas jatuh dengan serpihan kaca yang berpencar tak tentu arah.. aku dan teman-teman lari mencari persembunyian setelah Doni berhitung dari angka satu sampai dengan sepuluh.
Tak sadar aku berlari menuju tempat gelap, di balik pagar tembok rumah tetangga dengan pencahayaan redup di teras rumahnya. Tengak-tengok, ke kanan, kiri, depan, belakang dan aku merasa gelisah, aku sendirian. Sayup-sayup kudengar, Doni berteriak, “Hei, kalian dimana?”. Sunyi, tak ada sahutan sama sekali, hanya angin yang menampar-nampar pepohonan. Kurasa aku tidak dapat mendengar apapun, hanya suaranya sendiri yang memekik di kegelapan.
Di rumah itu, tepatnya di depan rumah itu tak ada apapun. Kegelapan, warna hitam mencekam, mataku pun tak dapat melihat jelas sekitarku kecuali setitik warna kuning cahaya lampu lima watt saja. Di balik pagar tembok  yang menghadap ke jalan, aku berjongkok menanti-nanti Doni atau teman-teman lain menerka persembunyiaanku. Lama menunggu, dan sangatlah terasa lama seperti aku tersesat di suatu tempat yang tak kukenal dan aku tak dapat kembali atau mungkin aku hilang arah dalam kebingungan yang semakin membuatku takut dan takut. Kakiku semakin menunjukkan ketidaktahanannya dalam posisiku yang berjongkok, yah.. aku merasa kesemutan. Dalam kegelisahanku dan kesendirianku di tempat persembunyian yang mungkin tidak terjangkau oleh teman-temanku, di kegelapan itu aku seperti dipantau oleh sesuatu atau seseorang yang menurutku tidak tertangkap pandangan manusia, mungkin tak terlihat atau tidak menampakkan diri. Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhku, bak sebesar biji-biji jagung yang menggelinding. Kepanikan semakin menjadi, menggigil, mata setajam pandangan singa hutan yang sigap memangsa, aku bergiding di tempat. Apa ini? Aku kebingungan, limbung, kehilangan akal sehatku dalam sekejap. Aku termakan dalam gelap, monster hitam mengepul bagai asap tak tahu seberapa tinggi namun mata ini tak dapat menjangkau sosoknya yang paling ujung menjulang ke langit. Melingkupiku, memakanku, aku terbenam di dalamnya, mungkin benar atau hanya mimpiku sesaat kala itu.
Pastilah semua orang bertanya-tanya, kenapa kau tidak lari jika perlu berteriak saja sekencang-kencangnya kawan. Nyatanya tidak dapat kulakukan, tidak ada yang bisa kuperbuat, hanya mematung seperti patung tak bernyawa. Badanku dingin seperti mayat hidup, jalanku tertatih, aku mulai beranjak memberanikan diri meninggalkan tempat terkutuk itu. Meski susah payah, yang memang aku semakin payah. Ujung kaki hingga ubun-ubun mati rasa, langkahku tidaklah tegak seperti akan terjatuh, masih saja dalam keadaan bergetar, dan keringatku mengalir derasnya seperti usai lari marathon.
Seakan menjerit dalam hati, “Hei, teman-teman tolong aku! Kalian kemana? Jangan tinggalkan aku sendirian. Aku takut, aku takut, aku takuuutttt!!!”. Namun bibirku terkatup rapat tidak ada sepatah kata pun terucap, bergumam pun tidak. Keinginanku hanya satu, sampai di rumah. Aku ingin pulang, minatku bermain petak umpet gila itu lepaslah sudah. Tidak ingin kulanjutkan, hingga teman-temanku tak tahu kalau aku telah menghilang dari permainan dan meninggalkan mereka karena keegoisanku dengan mendahului mereka pulang. Tak peduli, terserahlah, pikiranku kalut saat itu, masih dalam keadaan yang diambang frustasi, trauma, tanpa daya.
Jeritanpun tak mempan, mungkin tak terdengar oleh teman-temanku. Apakah aku ditinggal pulang? Apa mereka lupa kepadaku yang masih bersembunyi? Pikiranku campur aduk tidak karuan. “Temukan aku, teman-teman”, isakanku yang nelangsa seperti anak kecil minta permen kepada ibunya.
§
Kurasa cukup lama Giska terjebak dalam ketakutannya, teman-temannya cukup lama pula mencari dirinya. “Giska, Giska.. kamu dimana? Udahlah keluar aja, kami nyerah gak bisa temuin kamu”, teriak Tito yang tak henti-hentinya pangil-panggil nama Giska. Teteh Defi, Adit, Doni, Teteh Sasa juga menampakkan kegelisahannya dan tidak henti-hentinya menggerutu. Dan akhirnya mereka pun saling menyalahkan, dan sedikit pertengkaran yang tidak enak dipandang itu. Mereka tidak tahu, sebenarnya mereka tidaklah salah dan tidak perlu mempermasalahkan dan memperdebatkan pencarian Giska. Seharusnya mereka mengatur strategi berpencar untuk bersama-sama mencari Giska, sebelum malam semakin larut. Itu usul yang bagus, strategi pencarian seperti detektif yang sering kita lihat di film-film Hollywood.
Di sisi lain, Giska masih saja duduk berjongkok di tempat persembunyian terkutuk itu. Apa dia tidak bisa bergerak atau bagaimana? Jika memang takut, kenapa tidak lari dan meninggalkan tempat itu? Isakan tangis Giska tak terespon siapapun, kecuali angin yang menderu dan sibakan dedaunan di pepohonan sekitar dia berada. Di saat seperti ini, Giska teringat perkataan dari bunda tercintanya. Perkataan yang mungkin didengar olehnya tapi tidak digubris dan hanya berlalu di telinga saja. Kali ini mungkin Giska menyesal, tidak menuruti perkataan mujarab bundanya. Ifah berkali-kali merajuk ketika bundanya melarang bermain di luar ketika malam hari, tepatnya tiap kali bulan Ramadhan seperti ini. Bundanya mengizinkan jika kegiatan bermainnya lebih baik ia gunakan untuk tadarus-an atau membaca Al-Quran bersama teman-temannya. Itu jauh lebih baik dan bermakna bahkan berpahala jika disbanding bermain petak umpet yang hanya untuk kesenangan saja.
Air mata Giska membanjiri pelupuk matanya yang kecil nan sipit, Giska seringkali disebut anak cina oleh teman-temannya. Menangis tidaklah sebuah kesalahan, memang wajar dan terkadang perlu untuk mengungkapkan isi hati. Tidak hanya menangis, kali ini mulutnya terus terucap menyebut-nyebut nama “bunda, bunda, bunda” yang tak kunjung berhenti. Kelakuan Giska ini, membuat teringat cerita anak yang tokohnya anak anjing yang kehilangan induknya dalam suatu keramaian manusia.
Teteh Defi, Adit, Doni, Teteh Sasa, Tito ternyata melakukan siasat itu, mereka berhenti berdebat dan ide cemerlang inilah yang terlintas di benak Tito. Keenam anak ini sepakat, berembug dan akhirnya berpencar yang masing-masing arah dua orang.
Malam masih saja sunyi, tak mau diganggu dan sibuk dengan dirinya sendiri, menyendiri. Terang, memang terang, namun hanya secercah cahaya lampu jalanan dan satu-dua rumah yang terlihat kilatan sinar. Suara jangkrik yang merdu, kekhasannya seperti ingin mengajak kita untuk bernyanyi, menyapanya, dan mengajak kita menari bersama. Atau mungkin mengajak kita untuk segera tidur, seperti melodi pengantar tidur yang setia menemani hingga kita terlelap dalam mimpi indah.
Mereka berenam melangkah dan tak henti-hentinya mulut mereka memanggil-manggil nama Giska. Mereka mulai lelah, tak kunjung menemukan Giska. Kenapa Giska memilih persembunyian tak terjangkau temannya dan lebih jauh? Ah, Giska ingin persembunyiaannya aman dan tidak dapat ditemukan teman-temannya. Tapi, kalau sudah begini akhirnya semua teman-temannya kelimpungan mencari dirinya.
Panggilan mereka menyurut, terengah-engah dan napas tersengal. Memutuskan sejenak melangkah perlahan, berhenti memanggil Giska.
“The, teteh Defi”, panggil Adit dari jarak tiga meter dan lambaian tangan yang diarahkan kepada teh Defi yang berjalan lebih lambat.
Teteh Defi berlari kecil dan mendekat. “Ada apa dit?”, katanya setengah berbisik.
“Aku dengar tangisan dari balik pagar tembok ini teh, kamu dengar gak?”, ungkap Adit agak ragu-ragu dan mengeryitkan dahi.
“Ah, mana sih dit? Teteh gak dengar kok”, teteh Defi keheranan.
“Coba deh teteh agak dekat pagar, dengar baik-baik. Aku gak salah dengar kok.”
“Sebentar”, kata Teteh Defi sambil mendekatkan dirinya sepuluh centi meter lebih dekat dan telinganya seperti tertempel.
“Iya, dit. Siapa ya, malam-malam begini menangis di situ? Apa mungkin Giska?”
Keduanya saling berpandangan, mata mereka bertemu, mematung tak bergerak sedetik. “Hah, Giska… Giska!” Mbak Defi dan Adit secara tidak sengaja memanggil nama Giska dengan serempak.
Giska terperanjat, nyawanya mulai berkumpul menyadarkan dirinya. Hatinya mulai lega, fisiknya yang lunglai mulai bertenaga, ketakutan yang membelenggunya mulai sirna sesaat. Giska mengenal suara itu, suara Teteh Defi dan Adit. Ah, Giska selamat. Giska ditemukan teman-temannya.
Giska berdiri, dan berusaha membuka mulutnya untuk bersuara. “Teteh Defi, Adit… Giska di sini, Giska di sini, tolong Giska… Giska takut.”
Giska berhasil berkata-kata, mungkin dia berusaha keras agar suaranya terdengar. Namun suara keterpaksaannya itu lebih tepat jika dia sedang merintih dalam tangis.
Giska mulai tersadar, perlahan mata sipitnya mulai terbit. Tak sadar dirinya terlelap dalam mimpi, yang mengingatkannya pada kelemahan dirinya yang membuatnya terpuruk jika mengingat dan mengingatnya. Seperti kala itu, mimpinya terus saja terulang dari kisah buruknya yang membuatnya phobia kegelapan. Ah sungguh miris, Giska.. dirimu harusnya bisa mengendalikan dirimu, melawan ketakutanmu sendiri, dan jangan lari terus menerus dari ketakutanmu itu.
Sejak saat itulah, aku selalu terjaga dalam kegelapan, terlebih jika listrik padam.
Mataku tak dapat terpejam.
Begitu juga di saat aku tertidur, entah kenapa instingku tahu dengan respon cepat aku tiba-tiba bangun seperti orang yang terkejut dan terbangun dalam tidurnya karena mimpi buruk.
Sebisa mungkin aku mengendalikan diriku agar tidak takut, berpikir positif, dzikir, dan membuka pembicaraan dengan orang sekitarku.
Tetap saja ketakutan itu masihlah selalu hadir, dan sosok hitam tak jelas itu juga selalu hadir pada pandanganku dengan intaian tajamnya yang menghujam jantung.
Seperti bercerita pada diri sendiri.

§§§

0 komentar:

Posting Komentar

 
art . ekspression . culture Blogger Template by Ipietoon Blogger Template