Oleh: Arifah Nian Ekasari
Karya sastra memiliki kiprah yang tidak berujung atau dapat dikatakan terus berkembang sesuai zamannya dari masa ke masa. Karya sastra yang merupakan seluruh cipta sastra yang berwujud tulisan dalam bahasa Indonesia, inti atau jiwa bangsa Indonesia, gagasan yang lahir dari kultur budaya bangsa Indonesia dengan setting wilayah yang ada di Indonesia itu sendiri.
Karya sastra Indonesia tidak terlepas dari sejarah sastra Indonesia, yang membahas mengenai tokoh-tokoh sastra, para sastrawan, para ahli sastra, proses dan hasil kreativitas dan produktivitas mereka. Dilihat dari segi perkembangan atau dapat dikategorikan sebagai periodisasinya, karya-karya sastra Indonesia lahir sejak tahun 1920-an hingga tahun 2000-an sekarang ini. Sejarah sastra Indonesia sebagai contoh awal mula berdirinya penerbit Balai Pustaka dengan karya sastra pertama berupa Novel “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar. Hingga kemudian disusul oleh penciptaan karya sastra hasil rumusan Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Armyn Pane, Usmar Ismail, Chairil Anwar, Idrus, Rendra, Prof.Ajip Rosidi, Bakri Siregar, Mochtar Lubis, Dr.H.B.Jassin, Prof.Dr.Nugroho Notosusanto, Dr.Rahmat Joko Pradopo, Taufiq Darmawan, dan sastrawan/sastrawati lainnya.
Karya sastra Indonesia yang mengandung nilai nasionalisme, semangat serta jiwa Indonesia justru tidak termasuk dalam kategori sastra Indonesia dikarenakan tidak ditulis dengan bahasa Indonesia, mengapa hal ini bisa terjadi? Surat-surat R.A.Kartini dialih bahasakan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”, dengan judul asli “Door Duisternis Tot Licht” merupakan karya Multatuli. Selain itu “Max Havelaur” yang dikenal dengan “Episode Saijah dan Adinda”, lalu terjemahan kumpulan cerpen/sketsa “Buah Renungan”. Karya pengarang wanita berkebangsaan Belanda kelahiran Surabaya, M.H.Szekely Lulofs (1899-1958) antara lain: “Kuli” (judul asli “Koeli”), “Cut Nya’ Din”, “De Hongertoch”, “De Andere Wereld”, “Berpacu Nasib di Kebun Kopi”. Kemudian karya wanita Amerika kelahiran Inggris dikenal dengan nama Ketut Tantri, yang berjudul “Revolusi di Nusa Damai” (judul asli “Revolt in Paradise”). Semua karya-karya sastra yang bukan asli warga Negara Indonesia tersebut di atas tidaklah termasuk dalam kelompok sastrawan atau sastrawati bangsa Indonesia begitu pula karya-karyanya. Meskipun karya-karya sastra yang mereka ciptakan menggunakan setting Indonesia, mengangkat budaya atau kultur corak bangsa Indonesia, bahkan mengandung semangat juang Indonesia. Faktor yang melatar belakangi hal ini adalah dikarenakan penulisan naskah asli menggunakan bahasa asing (bahasa Belanda ataupun Inggris) sehingga karya-karya tersebut tidak termasuk dalam sastra Indonesia.
Menyikapi pembahasan konsep sebelumnya, tokoh-tokoh atau sastrawan/sastrawati yang bukanlah berkebangsaan Indonesia justru memproduksi karya-karya sastra kreatifnya yang bernafaskan bangsa Indonesia. Hal ini berbanding terbalik dengan sastrawan/sastrawati berkebangsaan Indonesia menggunakan setting Negeri Barat sebagai fokus setting dalam karya-karya sastra yang mereka cipta. Secara garis besar, karya-karya sastra yang diciptakan sastrawan/sastrawati bangsa Indonesia tidaklah melulu berunsur Negeri Barat, terdapat pula karya-karya sastra yang mengangkat setting kultur budaya bangsa Indonesia. Variasi karya-karya sastra ini terjadi disebabkan adanya periodisasi atau angkatan kesusastraan dalam sejarah karya sastra Indonesia. Karya-karya sastra yang mereka ciptakan disesuaikan dengan zamannya, zaman ketika karya sastra tersebut diproduksi. Menurut kebermanfaatannya, periodisasi atau angkatan kesusastraan ini memudahkan kita dalam mengenal, mengetahui, sebagai pembelajaran dalam segi pendidikan dari segi pengetahuan tentang sejarah sastra Indonesia modern.
Namun pada kenyataannya di antara sastrawan-sastrawan Indonesia konsep karya sastra yang mereka produksi tidaklah terpaku pada kultur bangsa Indonesia, kreativitas yang mereka tuangkan melalui karya-karya sastra mereka beraliran barat atau pengaruh modernitas lebih berperan.
Sastra Indonesia dimulai dengan peranan penerbit Balai Pustaka yang mewadahi anak bangsa Indonesia untuk berkarya, untuk memproduksi karya-karya sastra yang bernilai. Sensor Balai Pustaka terhadap karya-karya sastra yang dinilai kurang beradap dalam segi moralitas, merupakan salah satu bukti telah adanya pengaruh barat dalam karya-karya sastra yang dihasilkan sastrawan/sastrawati Indonesia. Novel Salah Asuhan (1928) karya Abdul Muis, kemudian Siti Nurbaya (1922) karya Marah Rusli memiliki karakter cerita yang mengutamakan penggebrakan mengenai kawin paksa. Abdul Muis juga Marah Rusli seakan-akan ingin menunjukkan adat istiadat atau ciri perkawinan bangsa Indonesia. Melalui novel atau roman yang mereka ciptakan, gagasan mereka dapat tersampaikan yang dimungkinkan memiliki tujuan untuk dapat mengubah cara pandang masyarakat atau bangsa Indonesia tentang perkawinan paksa. Dapat dikatakan bahwa, hal ini merupakan pemberontakan terselubung, mencoba meraih hati pembaca (dalam hal ini ditujukan untuk bangsa Indonesia) untuk dapat lepas, berubah yang mengarah pada kebebasan hak asasi manusia.
Novel-novel yang diterbitkan oleh Balai Pustaka secara ideologis dapat ditafsirkan sejalan atau merupakan gambaran ideologi pemerintah Belanda. Mengingat Balai Pustaka dikelola oleh pemerintah Belanda, sangatlah wajar jika novel-novel atau karya sastra yang diterbitkan tidak jauh-jauh dari konsep atau ideologi Belanda.
Novel atau roman Salah Asuhan begitu pula Siti Nurbaya memiliki ragam bahasa dan kosakata Melayu yang dominan, tetapi jika mempersoalkan tentang nasionalisme Indonesia perlulah dipertanyakan. Dalam penerbitannya tentulah diselaraskan dengan kepentingan pemerintahan Belanda, karya-karya sastra yang bersifat nasionalisme justru diterbitkan oleh penerbit non pemerintah. Kegagalan roman “Salah Asuhan” karya Abdul Muis ditolak Balai Pustaka karena mengisahkan tokoh Hanafi yang durhaka terhadap orang tuanya, menelantarkan keluarganya, melecehkan adat istiadat daerahnya. Ia menjadi salah asuhan karena dididik dan dibesarkan oleh sistem pendidikan dan kultur barat yang sekuleristis. Pengaruh barat yang diimplementasikan dalam karya sastra roman “Salah Asuhan” karya Abdul Muis sebagai pembelajaran bagi pembaca, yang memiliki dua kategori. Yaitu pengaruh yang baik ataukah pengaruh yang buruk, yang dirasa perlu untuk tetap mempertahankan eksistensi rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Hal ini adalah salah satu wujud perjuangan kemerdekaan dengan melalui karya sastra, untuk dapat mendoktrin dan menciptakan dogmatis masyarakat bangsa Indonesia menolak penjajahan. Penggambaran budaya barat yang berbahaya, membawa pengaruh buruk dalam penceritaan tersebut adalah sebagai contohnya.
Dilatar belakangi hal inilah, dimungkinkan saat itu sastrawan/sastrawati Indonesia terkukung atau terbatas dalam hal menciptakan karya-karya sastra yang bersifat nasionalisme, yang dapat membangkitkan semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.
Masa berganti, lewat majalah Pujangga Baru para sastrawan melangkah lebih maju kearah pembaharuan dan bersemangat. Tokoh-tokoh yang berkarya dalam masa ini teguh dalam prinsip mereka masing-masing yang akhirnya membawa kekhasan karya-karya sastra yang mereka ciptakan dengan pengaruh barat sebagai tonggak atau tolok ukur bagi sebagian para sastrawan Indonesia. Sutan Takdir Alisyahbana adalah tokoh dalam majalah Pujangga Baru yang berpendapat bahwa untuk menjadi bangsa yang maju kita harus mereguk ruh barat, menomorwahidkan individualisme, intelektualisme dan materialisme. Sutan Takdir Alisyahbana terkenal dengan roman bertendennya “Layar Terkembang”, roman-roman yang lain diantaranya: “Dian nan Tak Kunjung Padam”, “Anak Perawan di Sarang Penyamun”, “Tebaran Mega” yang merupakan kumpulan sajak. Pengaruh romantisme barat melalui Angkatan ’80 (De Tachtiger Beweging) Belanda yang membawa perubahan pada karya sastra puisi di masa itu, tidak secara menyeluruh namun wujud pembaruan yang tidak meninggalkan ciri khas bangsa.
Konsep Sutan Takdir Alisyahbana dinilai sepaham dengan ideologi atau politik pemerintah Belanda, namun menjadikan transparannya jati diri bangsa Indonesia. Sanusi Pane begitu pula Poerbatjaraka memiliki pandangan yang sama menyikapi gagasan atau pendapat dari Sutan Takdir Alisyahbana yang sebenarnya memandang bangsa Indonesia dalam arti bahwa tidak silau dengan pengaruh barat yang masuk di Indonesia dan tidak mabuk dengan kebudayaannya sendiri. Poerbatjaraka menandaskan bahwa yang perlu dilakukan adalah menyeleksi kebudayaan Indonesia yang purba dan pengaruh kebudayaan barat untuk diformulakan menjadi kebudayaan Indonesia baru. Kemudian Sanusi Pane berpendapat, sebaiknya kebudayaan Indonesia mengawinkan Faust (Barat) dengan Arjuna (Timur). Dari pendapat para tokoh-tokoh tersebut, kita dapat menafsirkan bahwa pengaruh barat memang diperlukan dalam corak karya sastra Indonesia sebagai langkah pembauran, namun tetap mengedepankan sisi jati diri dan jiwa kebangsaan sendiri, bangsa Indonesia.
Pemerintahan Belanda yang memberikan pengaruh barat di Indonesia telah digantikan oleh pemerintahan Jepang sehingga peran timurlah yang berkuasa. Berangkat dari faktor inilah, kesusastraan Indonesia melibatkan kehidupan yang keras pada masa itu. Muncullah konsep kemanusiaan yang timbul karena berbaur dengan karya sastra asing barat, yaitu Jerman, Rusia, Perancis, Inggris, Amerika dan lainnya setelah masa kemerdekaan Indonesia. Chairil Anwar adalah tokoh sastrawan yang menonjol di masa pendudukan Jepang ini dengan karya sastra andalannya sajak-sajak yang mengandung nilai kemanusiaan. Buah karyanya seperti: kumpulan sajak “Deru Campur Debu”, “Kerikil Tajam”, dan “Yang Terhempas dan Yang Putus”; dalam kumpulan sajak tersebut memuat sajak yang berjudul: “Aku”, “Diponegoro”, “Cintaku Jauh di Pulau”, “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Catatan 1946”, “Doa”, “Kepada Kawan”, “1943”, “Cerita Buat Dien Tamaela”, “Isa” dan lainnya. Chairil Anwar memberikan penolakan terhadap Pujangga Baru, prinsip yang ia cetuskan adalah mengusung semangat perjuangan dan menolak gagasan Sutan Takdir Alisyahbana.
Generasi Kisah 50-an, kesusastraan Indonesia disuburkan dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Sastrawan mengkritik kecenderungan kosmopolit angkatan ’45 serta orientasi humanisme universal yang mengarah ke barat. Pengaruh barat tidak cukup berperan tetapi semangat kedaerahan, sosial-politik ikut terseret dalam karya-karya sastra pada generasi ini. Ajip Rosidi yang mengambil setting Sunda dalam karyanya, diantaranya ia menulis kumpulan-kumpulan sajak “Pesta”, “Cari Muatan”, “Surat Cinta Enday Rasidin”,”Jeram”, cerpen dan novelet “Tahun-tahun Kematian”, “Di Tengah Keluarga”, “Sebuah Rumah buat Hari Tua”, “Pertemuan Kembali”, penceritaan kembali sastra daerah “Purba Sari Ayu Wangi” dan karya-karya sastra lainnya. Di tahun ’66 dikenal dengan angkatan Manifes Kebudayaan sebagai aksi penolakan terhadap Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berporos pada Partai Komunis Indonesia (PKI).
Kemudian bergantilah dengan pembabakan baru yang memisahkan kebudayaan dengan politik, menganggap tidaklah sesuai campur tangan politik dalam kebudayaan khususnya dalam kesusastraan Indonesia. Sementara itu, Kuntowijoyo yang lahir dan dibesarkan dalam tradisi kejawen, tetapi menyerap juga pengaruh tasawuf dan filsafat Barat (eksistensialisme) yang kemudian berhasil melahirkan sebuah novel “Khotbah di Atas Bukit” dengan memperlihatkan percampuran berbagai pengaruh kedaerahan.
Penciptaan karya-karya sastra memiliki kebebasan, sastrawan Indonesia tidaklah terikat seperti pada masa-masa atau yang dikenal dengan angkatan sebelumnya. Keberagaman dalam segi aliran, baik romantis, idealis tidaklah mengarah pertentangan atau pemberontakan atau aliran keras seperti yang terjadi pada angkatan sebelumnya. Nh. Dini, pengarang wanita ini menulis kumpulan cerpen “Dua Dunia”, roman “Hati yang Damai”, “Namaku Hiroko”, “Pada Sebuah Kapal”, “La Barka”, “Keberangkatan”, novel-novelnya “Sekayu”, “Sebuah Lorong di Kotaku”, “Langit dan Bumi Sahabat Kami” dan karyanya yang lain. Novel-novel yang ditulisnya menonjolkan pengaruh dari budaya barat dengan tokoh utama yang memiliki konflik dengan pemikiran timur. Mira W dan Marga T mengandalkan fiksi romantisme sebagai ciri karya sastra mereka, dengan bertolak dari novel-novel terbitan Balai Pustaka yang mendapat pengaruh sastra Eropa abad ke-19. Sastrawati mulai bermunculan di masa ini, meskipun mengarah pada aliran feminisme namun paham modernitas terealisasikan dalam segi penceritaan pada karya-karya sastra yang mereka ciptakan.
Modernitas selain berpengaruh dalam segi kehidupan manusia, membawa perubahan pula terhadap karya-karya sastra yang diciptakan sastrawan/sastrawati Indonesia yang lebih mengarah pada kebebasan berekspresi, kepopuleran dalam hal ini adalah konsep vulgar atau dapat pula diwujudkan secara absurd. Ayu Utami melalui novelnya, “Saman” (1998) yang berani mengungkapkan persoalan seks. Lalu, disusul munculnya sosok sastrawati yang lebih vulgar dalam segi kebahasaan penceritaan dalam karyanya setelah Ayu Utama, diantaranya Dinar Rahayu (Ode untuk Leopold, 2002), Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang, Saya Monyet! 2003, dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) 2004), Maya Wulan (Swastika, 2004).
Sejatinya, peran juga pengaruh bangsa Barat terhadap karya sastra yang berkembang di Indonesia dari tahun 1920-an hingga tahun 2000-an sekarang ini memiliki sumbangsih, tidak dapat dipungkiri bahwa pesona Barat dapat menyihir kaum Timur. Terbukti dari berbagai karya sastra yang diciptakan sastrawan Indonesia dari masa ke masa walaupun mengusung kultur Timur (bangsa Indonesia) terselip pula paham atau aliran bangsa Barat yang ikut melekat pada karya tersebut. Meskipun dalam perjalanannya, pengaruh Barat muncul secara fleksibel sesuai dengan masa atau zamannya dapat dikatakan pengaruh ini muncul di masa ini, dapat pula muncul kembali di masa berikutnya atau belum tentu muncul pada masa selanjutnya. Tidak terlepas dari masanya, latar belakang sastrawan juga dapat mempengaruhi atau menjadi faktor tumbuhnya pengaruh Barat pada karya sastra Indonesia.
Kita patut berpersepsi bahwa sastrawan di masa itu dimungkinkan pernah menjejakkan dirinya di Negara Barat (Eropa). Dari pengalaman kehidupan inilah, setting yang mereka ciptakan dalam karya sastranya sesuai dengan Negara yang mereka kunjungi yang kemudian diadaptasi dengan setting bangsa Indonesia sehingga tercipta percampuran konsep atau aliran yang memberikan warna pembaharuan pada karya sastra yang dihasilkan. Ditinjau dari perkembangan zaman, pengaruh Barat merambah di Indonesia dilatar belakangi oleh modernisasi dan globalisasi dunia dengan pusat atau tonggak penguasa dunia adalah kaum Barat. Jadi tidaklah dapat dipungkiri, budaya Barat membawa pengaruh sehingga merosotnya budaya Timur yang berbanding terbalik dengan budaya Barat yang cenderung mengagungkan kebebasan. Perubahan zaman terjadi karena mengikuti perubahan dan perkembangan manusia, begitu pula karya sastra yang mengalami perubahan dan pembaharuan adalah bergantung pada manusia (sastrawan) sebagai pencipta.
Daftar Pustaka
Fuady, Amir dan Yani Mujianto. 1995. Sejarah Sastra Indonesia. Surakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia – Universitas Sebelas Maret
Sarwadi. 2004. Sejarah Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Yama Media
Budiyati. 2006. Handout Perkuliahan – Sejarah Sastra Modern. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia – Fakultas Bahasa dan Seni – Universitas Negeri Semarang
. Karya Sastra dan Periodisasinya. http://endonesa.wordpress.com/lentera-sastra/karya-sastra-dan-periodenya/ diunduh pada tanggal 1 Desember 2011 pukul 9.39
Sambodja, Asep. Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia. http://www.duniaesai.com/index.php/direktori/esai/47-sastra/329-dua-kiblat-dalam-sastra-indonesia.html diunduh pada tanggal 1 Desember 2011 pukul 9.44
. 2009. Sastra Indonesia. http://www.jendelasastra.com/wawasan/artikel/sastra-indonesia diunduh pada tanggal 1 Desember 2011 pukul 9.49
Nurhadi. Sekilas Sastra Asing Di Indonesia. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/SEKILAS%20SASTRA%20ASING%20DI%20INDONESIA.pdf. Diunduh pada tanggal 1 Desember 2011 pukul 9.59
http://nalurerenewws.blogspot.com/2018/08/taipanqq-6-aktivitas-sehat-yang-cocok.html
BalasHapusTaipanbiru
TAIPANBIRU . COM | QQTAIPAN .NET | ASIATAIPAN . COM |
-KARTU BOLEH BANDING, SERVICE JANGAN TANDING !-
Jangan Menunda Kemenangan Bermain Anda ! Segera Daftarkan User ID terbaik nya & Mainkan Kartu Bagusnya.
Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
1 user ID sudah bisa bermain 8 Permainan.
• BandarQ
• AduQ
• Capsasusun
• Domino99
• Poker
• BandarPoker
• Sakong
• Bandar66
Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
customer service kami yang profesional dan ramah.
NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
• WA: +62 813 8217 0873
• BB : E314EED5
Daftar taipanqq
Taipanqq
taipanqq.com
Agen BandarQ
Kartu Online
Taipan1945
Judi Online
AgenSakong