Kehidupanku yang begitu rumit
dicerna juga diterjemahkan, liku-liku bagai jalan tak tentu arah
terombang-ambing dengan pikiranku sendiri yang tidak kunjung bersih.
Mulai dengan pribadiku sebagai
anak kolong yang bebas dengan dunia serta imajinasiku yang begitu menyenangkan.
Benakku mulai melangkah, kehidupanku dimulai dari peristiwa yang sebelumnya tak
kubayangkan dan tak kumengerti. Karena ibuku, karena pula ayahku yang telah
bersekongkol membela negeri Belanda dengan Jepang dan Indonesia sebagai
musuhnya.
Aku menjadi pengikut mereka,
ideologi juga paham terpatri dengan Negara kincir angin itu. Namun Atik, sosok
wanita idamanku justru memilih Negara busuk …dengan berbagai akal bulus
…Indonesia.
Keraguan melandaku, jati diri
yang belum bisa kutemukan dan dengan kehidupanku yang sulit kutebak sendiri.
Aku tidak berteriak, aku tidak
menangis, aku tidak mengeluh, aku tidak apa-apa …selain diam seribu bahasa.
Barangkali tersenyum walau tipis.
Atik, sejujurnya aku iri padamu.
Dirimu berhasil sampai kematianmupun sebetulnya bernasib untung, gugur dalam
perjalanan ziarah ke Tuhan.
Ketiga anak-anak itulah yang
kupunya sebagai curahan hatiku terhadap sosok Atik. Akan kurawat mereka,
kulindungi mereka, hingga besar nanti. Aku tahu mereka membutuhkan seorang ibu.
Tetapi bu Antana sudah cukup jasanya, sebagai nenek sekaligus ibu bagi mereka.
Kurasa ini tak akan lama, dan akulah sebagai pengganti posisi bu Antana.
Dan juga kenanganku pada Atik
yang teramat indah. Kenangan yang dapat berbahaya selaku nostalgia kosong,
namun hadir pula dengan kekuatan yang tiada tara.
Ataukah karena aku masih belum
berani mengorbankan citra terakhir yang paling indah dari sejarah hidupku,
citra Atik? Ingin itu kutanyakan pada burung-burung manyar. Tetapi sekarang
sudah jarang kulihat mereka ….
Adaptasi dari =>>Roman "Burung-burung Manyar" karya YB. Mangun Wijaya
0 komentar:
Posting Komentar