Awan
adalah diriku, matahari adalah dirimu.
Kenapa
bisa? Ini hanyalah pengandaian saja, tentu saja tidak bisa dijelaskan dan
jangan tanya bagaimana ini bisa? Siapa yang memulai?
Wahai
awan, kau yang selalu menaungi aku, melindungi aku.. oh, bukan. Lebih tepat kau
bersamaku ketika aku menampakkan sosokku ini.
Wahai
awan, kau sungguh setia. Selalu saja bersamaku, apa kau tidak lelah?
Wahai
matahari, taukah? Kau begitu menawan, sinarmu yang selalu sejukkan aku..
menyapu putihnya dan lembutnya diri ini.
Wahai
matahari, meski kau panas dan aku dingin kaulah yang menghangatkan aku.
Menemani aku ketika hari cerah. Meski tidak ketika gemuruh petir datang, lalu
mengantarkan hujan. Kau menghilang, menjauh dari sisiku dan aku kembali
kedinginan.
~«~
Hari memang cerah, matahari
menampakkan sinarnya membelah bumi empat puluh lima derajat dari arah timur. Langkah
kakinya begitu cepat. Terlihat gadis itu sangat tergesa-gesa, entah apa yang
membuatnya seperti itu. Jalanan begitu ramai, lalu-lalang kendaraan bermotor
juga selang-seling orang-orang berjalan sibuk dengan dirinya masing-masing.
“Giska, mau kemana?”, panggil
seorang gadis lain dari arah berseberangan yang menyentakkan dirinya.
“Hei, Ra! Mau ke kampus nih,
aku telat. Duluan, yaa? Dadaahh.”, sahut Giska di kejauhan sambil melambaikan
tangan ke arah Rara.
Langkah Giska bertambah cepat,
ia berlari. Giska berhenti di depan ruangan kuliah, dugaannya tepat. Ia
terlambat, dosen sudah berada di kelas. “Ah, sial. Gara-gara lembur tugas tadi
malem, bangunku kesiangan. Gini nih, telat kuliah. Mampus deh gue!”, gerutu
Giska dalam hati.
“Tok tok tok”, bunyi pintu
diketok oleh tangan seseorang. Dan tiga detik kemudian, muncul sosok itu.
Giska menyeringai, minta maaf
atas keterlambatannya selama sepuluh menit kepada dosen dan teman-teman
sekelasnya. Mungkin dosen ngeri ini sedang dalam suasana hati yang baik, tanpa
selaan apapun meski dia terlambat, Giska dengan mulusnya dapat meluncurkan
dirinya di bangku dan mengikuti perkuliahan Pak Darto sampai selesai.
Giska adalah mahasiswa pindahan
dari salah satu universitas negeri di kota Bandung, kini ia berstatus mahasiswa
di Universitas Sebelas Maret (UNS). Latar belakang kepindahan studinya adalah
kepindahan tugas dinas ayahnya yang mengharuskan berdomisili di kota Solo.
Giska lebih memilih pindah universitas dari pada tetap di Bandung melanjutkan
studinya tanpa didampingi sanak keluarganya. Kelihatannya sedikit
kekanak-kanakan, Giska baru mulai semester pertama di tahun ini.
Adaptasinya tidak cukup sulit,
hari ini ketika Giska kuliah pertama di Solo dia sudah mendapat banyak kenalan.
Seusai perkuliahan Pak Darto, Giska masih sibuk memasukkan buku-buku ke dalam
tasnya. Seseorang mendekat, menjulurkan tangannya kepada Giska untuk mengajak
berkenalan.
“Hei, sepertinya aku baru liat kamu di kelas ini. Apa kamu
mahasiswa pindahan itu? Boleh kenalan? Aku Dito.”, pemuda ceria itu mengajak
Giska berkenalan, senyumnya merekah.
“Ah, halo. Kamu benar, aku mahasiswa pindahan itu. Aku
Giska, salam kenal.”, sahut Giska sambil menyambut jabat tangan Dito.
“Oh, Giska. Masih ada kuliah?”, tanya Dito.
“Udah, hari ini satu doang. Kamu masih ada kelas?”, jawab
Giska.
“Ya udah, aku duluan ya. Masih ada kelas nih, besok di
sambung lagi deh kenalannya. Bye.”, Dito berlalu dengan lambaian tangannya yang
semakin jauh tak terlihat lagi.
Wahai
matahari, kau datang sinari diri ini.
Untuk
pertama ini aku merasakan kau begitu hangat, dekat meski kau hadir terlambat.
~«~
Kampus ini tidak sepi, tidak
juga ramai seperti pasar. Struktur bangunannya tidak jauh berbeda dengan
universitas lain kebanyakan, mungkin lebih bagus universitas Giska dahulu
ketika di Bandung. Meski sedikit, tapi rasanya disayangkan pindah dari
universitas ternama di kota Bandung itu.
Ini tidak menjadi masalah, justru Giska menyukai kota ini yang
begitu dikenal dengan budayanya yang masih kental. Senyumnya tersungging, Giska
berjalan mengelilingi kampus tempat ia menuntut ilmu hingga wisuda nanti.
Berkeliling, mengenal gedung itu juga satu per satu ruangan-ruangannya. Ada
sesuatu yang menarik perhatiannya, perpustakaan. Giska gemar membaca, melihat
perpustakaan membuatnya amnesia sesaat seperti monyet yang menemukan pisang.
Kelihatannya dia gembira, lihat saja gadis itu girangnya minta ampun.
Giska bergegas melangkahkan
kakinya masuk ke dalam perpustakaan yang tidak cukup besar, namun muat untuk
menampung koleksi buku-buku referensi atau buku-buku lain yang diperlukan
mahasiswa fakultas itu.
Jemarinya menari, cekatan
memilih-milih buku bacaan yang diinginkannya. Terhenti di satu buku, ujung jari
telunjuknya mengambil buku itu. Selajur dengan rak buku itu, di arah berlawanan
atau berhadapan dengan Giska, berdiri seseorang. Tepat ketika Giska mengambil
buku itu, celah memperlihatkan sosok itu, sosok yang dia kenal dua hari yang
lalu.
“Giska?”, teriak Dito saat
melihat Giska di sela-sela rak buku.
“Loh, Dito?”, sentak Giska
terkaget.
Angin berhembus, menyapu wajah
bersih nan lembut gadis itu, lalu menyibakkan rambut lurusnya yang indah.
Tubuhnya yang tinggi semampai sungguh mempesona. Mungkin pemuda yang berada di
sampingnya menyadari hal itu, pandangannya tidak lepas memandang makhluk indah
yang berada di hadapannya itu. Hanya senyum simpul, kekaguman dalam hati yang
membisik begitu saja maski diam-diam hanya dirinyalah yang tahu, tidak juga
gadis yang berada di dekatnya.
Mereka duduk berdua di taman,
Giska dan Dito. Entah apa yang mereka lamunkan, seketika itu hening tak ada
sepatah ucapanpun keluar dari mulut mereka berdua. Setelah panjang lebar bercerita
kehidupan masing-masing mungkin membuat mereka lelah atau canggung tak ada
sesuatu lagi yang dibicarakan. Atau mereka terlena dengan suasana, angin
membawa mereka berkhayal tak tentu arah, membuaikan mereka, mengagumi satu sama
lain meskipun tak terucap. Hanya di sini, di dalam lubuk hati saja.
Dito memulai pembicaraan
setelah hening bak kuburan, “Giska, apa kau suka langit? Cobalah mendongak,
lihat ke atas. Apa yang kau temukan?”
“Tentu suka, jika aku dalam
masalah dengan memandang langit hatiku menjadi lega, tentramkan hatiku, dan
sejenak aku bisa melupakan beban pikiranku. Aku paling suka lihat awan. Kalau
kamu apa?”, jawab Giska yang masih menerawang langit juga terbersit suatu
kegembiraan di wajah manisnya.
“Awan? Hmmm.. justru aku suka
matahari, tiap pagi ketika kubuka jendela kamarku hal yang paling ingin aku
lihat adalah matahari terbit. Indah, sungguh menyenangkan dan entah mengapa aku
menyukainya. Ahaa, bagaimana kalau kita buat suatu sebutan?”. Dito begitu
bersemangat, mengusulkan nama atau sebutan untuk dirinya dan Giska.
“Sebutan apa? Maksudmu?”, tanya
Giska keheranan yang masih belum mengerti apa yang di maksud oleh Dito.
“Sebutan untuk kita Giska. Aku
punya ide, bagaimana jika aku menyebut diriku matahari sedangkan kamu adalah
awan? Unik, bukan?”
“Wah, ide bagus. Aku setuju.
Aku awan, kamu matahari? baiklah, wahai matahari seharusnya engkau selalu
bersamaku seperti ketika di langit kita selalu bersama-sama.”, cerocos Giska
disertai gelak tawa.
Dua anak manusia ini sedang mengalami keceriaan yang tak
berbatas, keduanya terhanyut dalam melodi keindahan. Giska dan Dito belum juga
beranjak dari taman itu, mereka berdua berbaring di rerumputan dengan tubuh
terlentang memandang sang cakrawala yang begitu menawan. Sang awan dan sang
matahari yang selalu berdekatan, terbang bersama, meski dalam imajinasi belaka.
Keduanya terpejam, merasakan hembusan angin, terdengar degup jantung mereka
masing-masing, kemudian sang cakrawala hanya tersenyum memandang kelakukan
mereka.
~«~
Awan,
kau tau.. kau sungguh menawan.
Senyummu
sungguh getarkan hati ini.
Melayang
ke angkasa jika kau berada disisiku, tetaplah disisiku.
Jangan
pernah beranjak.
Genggam
aku, awan. Jangan lepaskan aku.
Hati
ini tak mau lepas dari dirimu.
….
Sebuah puisi indah itu dikirim
Dito via SMS untuk Giska. Dirinya sedang dirundung kasmaran, kegilaan akan
cinta yang buta arah. Hatinya sedang berbunga, pikiranpun tak rasional. Dito
selalu tersenyum sendiri, ketika otaknya berpikir tentang sosok gadis yang
meluluh lantakkan hatinya, melemahkan persendiaannya meski hanya saling sapa
berpandangan. Apa artinya ini? Ah, Dito tidak menggubrisnya. Dia hanya terlena
dalam gelora cinta menggilai seorang Giska.
Gemericik air, sungguh syahdu
apalagi diiringi suara jangkrik yang begitu khas di telinga. Giska duduk di
teras belakang rumahnya, hanya melamun tak melakukan apapun. Angannya terus
saja berkhayal membayangkan sosok pemuda yang kharismatik dan ceria yang selalu
menemai hari-harinya. Senyumannya, tingkah lakunya yang menggelikan atau malah
konyol, gombalan puisi-puisinya yang menerbangkan dirinya layaknya bidadari
yang terbang ke angkasa. Giska cekikikan sendiri seperti orang kesambet.
“Tulit tulit tulit”, bunyi
ponsel Giska berdering.
Jemari lentiknya menggapai
ponsel yang merajuk bergetar di atas meja samping kursi tempat dirinya duduk.
Ada satu SMS masuk, dari Dito. Kata-kata indah itu, puisi dari Dito
menggetarkan Giska. Degup jantung semakin kencang, senyuman manisnya terus
menerus tersungging dari bibirnya, dirinya senang tak terkira. Puisi itu
dibacanya berulang-ulang, memori tentang dirinya berputar seperti film,
terbayang dan terus terbayang.
Awan,
kau tau.. kau sungguh menawan.
Senyummu
sungguh getarkan hati ini.
Melayang
ke angkasa jika kau berada disisiku, tetaplah disisiku.
Jangan
pernah beranjak.
Genggam
aku, awan. Jangan lepaskan aku.
Hati
ini tak mau lepas dari dirimu.
….
Entah apa yang terjadi pada
diri Giska, seperti yang kita tahu hal yang dialaminya sama persis dengan Dito.
Dilanda kasmaran. Giska meluncurkan puisinya untuk Dito, untuk sang
mataharinya.
Matahari,
awan selalu disisimu.
Awan
selalu setia, lihat saja selalu temani matahari.
Matahari,
kau menghangatkan aku yang dingin.
Jangan
menjauh, jangan menghilang jika petir bergemuruh.
Jangan
lenyap ketika hujam turun, jangan tinggalkan aku.
Dekap
aku, tetaplah disisiku.
Kau
bahagiaku, kau pelindungku.
….
Saling berkirim SMS, puisi
mewakili isi hati mereka berdua, Giska dan Dito. Bersama melihat mereka alangkah
membuat iri, kebahagiaan mereka yang selalu saja dihiasi tawa, celotehan
kekonyolan, keusilan keduanya meski sekelumit kegenitan. Sangat jelas terlihat
perasaan mereka yang saling mencinta satu sama lain, sangat jelas mereka tidak
ingin kehilangan satu sama lain, sangat jelas mereka ingin tertawa bersama.
~«~
Solo, salah satu kota yang
menerapkan Car Free Day (CFD) setiap
hari Minggu. Sesuai dengan artinya, hari bebas kendaraan bermotor. Di sepanjang
jalan Slamet Riyadi warga Solo sangat antusias berolahraga, di antaranya
bersepeda, jogging, gerak jalan, tennis meja, sepatu roda, skateboard. Selain
itu di pinggir-pinggir jalan berbagai stan menjajakan jasa juga makanan atau
barang-barang jualan. Ramai namun tertib, dan sungguh pemandangan yang menarik
dan menyenangkan.
Giska dan Rara bersepeda,
sambil menikmati suasana perkotaan yang asri ini. Pagi hari memang membius,
membuat terlena kesejukan udara yang bersih. Selain menyehatkan, menjernihkan
pikiran, dan sungguh menentramkan.
Rara adalah teman dekat Giska semasa SMP di Bandung, dia
lebih dulu pindah ke Solo tiga tahun yang lalu. Kini mereka bertemu kembali di
bangku kuliah, satu fakultas tepatnya FMIPA UNS.
“Giska, aku curiga nih.
Sebenarnya kamu ada hubungan apa sama Dito? Pacaran ya? Kok gak cerita sih?
Utang makan-makan hlo, ya?”, celoteh Rara sambil genjot sepeda.
“Kata siapa aku pacaran sama Dito? Nggak ah.”, jawab Giska.
“Boong banget deh, kalo nggak pacaran kalian kok mesra gitu?
Udah jelas kalian itu saling suka, udah deh ngaku aja.”, desak Rara.
Sementara Giska semakin
tersipu, terlihat tertahan dia ingin menyembunyikan perasaannya. Tak dapat
dipungkiri, hati tidaklah dapat berbohong. Wanita mana sih yang tidak peka,
temannya sendiri menyukai seseorang. Rara tentu tahu dan mengerti, apa yang
sedang dipikirkan oleh sahabatnya ini. Apa lagi kalau bukan Dito, teman
laki-laki Giska yang sekarang lagi lengket sama Giska.
Wanita memang sensitif kalau sudah menyinggung tentang
perasaan, ini masalah hati. Dan akhirnya Giska bocor juga, menceritakan
mengenai dirinya dengan Dito kepada sahabat baiknya ini, Rara.
Dengan antusiasnya, Rara begitu
semangat mendengarkan setiap perkataan yang muncul dari mulut Giska. Menjadi
pendengar setia seperti anjing yang menurut kepada tuannya, Rara mendengarkan
cerita itu hingga selesai, meski lamapun tak jadi masalah.
“Ra, gimana status aku sama dia
ya? Nggak jelas gini? Aku seneng sih seneng kalo tiap hari deket sama dia. Tapi
tiap aku tanya tentang status, dia lebih memilih untuk tidak menyebut
‘pacaran’. Dia selalu bilang, “Giska, kita sama-sama suka. Lebih baik kita
tetap seperti ini saja, jangan katakan pacaran wahai awanku.” Terus apa artinya
aku ini, Ra? Hubungan tanpa status?”, suara Giska makin berat seperti mau
menangis.
“Giska, jangan nangis dong. Ini
keputusannya ada di diri kamu sendiri, tetep disamping dia meski HTS-an atau
cukup berteman saja? Kamu nggak bisa maksa dia untuk pacaran sama kamu, kamu
nggak bisa egois Giska sayang.”, Rara membelai rambut sahabatnya dengan lembut
dan tersenyum simpul.
“Okey, Ra. Hati ini rasanya
makin sakit kalo inget dia. Aku ngrasa dalam masalah, aku jatuh cinta sama
Dito.” Dan seketika itu, isakan tangis Giska makin terdengar, dia menangis
sejadinya. Air matanya menggenang di pelupuk matanya lentik, parasnya yang
manis kini menjadi mendung.
Rara menyandarkan sepedanya di
bangku taman sekitar Stadion Manahan, menuntun Giska duduk di salah satu bangku
yang kosong. Sambil menenangkan Giska, mengusap air matanya, dan menghibur
Giska. Rara teman yang baik, pengertian, sifat dewasanya memberikan
perlindungan dan teman berbagi yang tepat bagi Giska. Matahari terbit mulai
meninggi, aktivitas kota mulai dipadati kendaraan dan Car Free Day (CFD) telah usai.
~«~
Proses perkuliahan telah
berlalu dua puluh menit yang lalu, dan Giska masih saja duduk di bangkunya tak
bergeming sedikitpun. Lamunannya pun buyar ketika seseorang mengagetkannya dari
belakang punggungnya.
“Giska!”, Dito sengaja
mengagetkan Giska. Giska tersentak, namun tetap saja wajahnya innocent. Sedetik kemudian matanya
melotot, sarafnya kembali menyadarkan dirinya, seseorang yang di depan matanya
adalah Dito. Giska geragapan, salah tingkah lebih tepat menggambarkan dirinya
yang kelimpungan. Bahkan mengucapkan katapun tampak terbata-bata, mungkin masih
shock.
Jari telunjuk Doni dengan gesit
menempel di bibir Giska, seakan isyarat bahwa Giska tak harus mengatakan
sepatah dua patah kata yang hendak diucapkannya. Tangan Giska diraihnya dengan
cepat, beranjak dan membawa Giska melangkah ke suatu tempat. Entahlah, Giska
masih bingung belum sempat mengumpulkan kesadaran dari lamunannya. Dito seperti
kesurupan, dengan langkah seribu menggandeng Giska menuju ke parkiran motor.
Berhenti sejenak, mengulurkan helm pada Giska kemudian menyuruhnya untuk segera
membonceng.
“Giska, pegangan yang erat
ya.”, tegas Dito dengan senyum simpul yang menawan.
“Eeeeh, iiiiyaaa.”, jawab Giska
yang ragu dan agak terbata.
Tangan Giska melingkar di
pinggang Dito, angin menyibakkan rambut lurusnya dan tak sadar dirinya bersandar
di bahu pemuda itu. Matanya terpejam, bibirnya tersenyum, perasaan tenang
menyelimuti dirinya. Dan yang paling jelas adalah dia sangatlah bahagia. Sang
matahari membawa sang awan ke suatu tempat dan hari ini mereka bersama, saling
berdekatan, bergandengan.
Dito tetap saja berkharisma,
memang pemuda yang ceria meskipun banyak bertingkah konyol. Di pandangnya kedua
tangan yang melingkari pinggangnya, pemuda itu hanya tersenyum. Mungkin dia
bahagia berdekatan dengan sang awan, pujaan hatinya terlebih berjarak kurang
dari satu millimeter.
Motor Dito melaju dengan
teratur, perlahan kecepatannya dan akhirnya berhenti di Taman Balekambang. Dito
membawa Giska di depan kolam, duduk di salah satu bangku kosong yang tersisa.
Keduanya masih tetap diam dalam sepi, berbanding terbalik dengan sekitar tempat
mereka duduk justru ramai dengan orang yang berlalu-lalang.
Dito memegang erat tangan gadis
di sampingnya, pandangan mereka bertemu. Dito mulai bicara memecah keheningan
di antara mereka sedangkan bibir mungil Giska tetap terkatup rapat.
Awan,
aku bahagia bersamamu.
Aku
hanya ingin cinta kita mengalir seperti ini, tanpa beban.
Aku
hanya tidak ingin menyebut istilah pacaran, biarkan aku menyukaimu, menggilaimu
dengan bebas. Dengan caraku sendiri.
Bolehkah?
Giska menoleh, memandang sosok
pemuda yang sangat didambakannya untuk menjadi kekasih hatinya.
Matahariku,
aku bahagia bersamamu.
Aku
tau dirimu mencintaiku, aku tau dirimu tak ingin terbelenggu dengan istilah
pacaran.
Tapi
sudikah kau mengakuiku sebagai kekasihmu, awan hanya ingin mendapat pengakuan
dari matahari. Tentu saja boleh kau menyukaiku, diri ini tidak melarang.
Taukah
matahari, justru awan bahagia dan tidaklah ingin jauh darimu.
Dito tersenyum, kembali
dipandangnya gadis yang berada di sampingnya itu dengan sorotan mata yang tajam
dan dalam. Sungguh tersirat bahwa dirinya mencintai gadis itu.
Begitukah?
Tentu saja awan selalu bersama matahari. Tentu saja diri ini milikmu, wahai
awanku. Dan dirimu adalah milikku. Tetapi bukan sumpah bibir saja, namun di
lubuk hati. Hati ini sesungguhnya milikmu, wahai awan. Aku akan selalu
bersamamu, tapi tidak untuk sebutan pacaran tidak juga persahabatan. Lebih dari
sekedar itu, jiwa ini milikmu tapi bukan raga ini. Meski begini jangan menjauh
dariku, bolehkah matahari tetap mendambakan awan?
Giska tak menjawab, hanya diam
dan diam. Hatinya goyah, dia semakin tidak mengenal dirinya. Rapuh sudah
harapannya, meski hatinya milik Dito dan hati Dito milik dirinya. Tidak
mengubah apapun, Dito tetap pada pendiriannya tidak ingin mengubah status
mereka. Sosok pemuda dengan ideologi individualis meruntuhkan Giska, pengakuan
tidak didapatnya. Hanya cinta di bibir, apa benar di hati juga? Nyatanya pemuda
itu hanya menganggap cinta sebuah kesenangan, hiburan dan tidak ingin saling memikul
dan berbagi kesedihan.
Tetapi cinta memang mengalahkan
segalanya, Giska tetap menerima keputusan Dito. Cinta mereka tanpa status yang
jelas, kekaguman satu sama lain hanya sebagai obat hati. Mengalir seperti air,
ini seperti permainan yang tiada akhir ujungnya hingga salah satu pihak yang
harus menghancurkannya.
«««

0 komentar:
Posting Komentar