16/05/12

Cerpen "Sinarmu Tak Lagi Datang"



~Arifah Nian E.~


Awan adalah diriku, matahari adalah dirimu.
Kenapa bisa? Ini hanyalah pengandaian saja, tentu saja tidak bisa dijelaskan dan jangan tanya bagaimana ini bisa? Siapa yang memulai?

Wahai awan, kau yang selalu menaungi aku, melindungi aku.. oh, bukan. Lebih tepat kau bersamaku ketika aku menampakkan sosokku ini.
Wahai awan, kau sungguh setia. Selalu saja bersamaku, apa kau tidak lelah?

Wahai matahari, taukah? Kau begitu menawan, sinarmu yang selalu sejukkan aku.. menyapu putihnya dan lembutnya diri ini.
Wahai matahari, meski kau panas dan aku dingin kaulah yang menghangatkan aku. Menemani aku ketika hari cerah. Meski tidak ketika gemuruh petir datang, lalu mengantarkan hujan. Kau menghilang, menjauh dari sisiku dan aku kembali kedinginan.
~«~

Hari memang cerah, matahari menampakkan sinarnya membelah bumi empat puluh lima derajat dari arah timur. Langkah kakinya begitu cepat. Terlihat gadis itu sangat tergesa-gesa, entah apa yang membuatnya seperti itu. Jalanan begitu ramai, lalu-lalang kendaraan bermotor juga selang-seling orang-orang berjalan sibuk dengan dirinya masing-masing.
“Giska, mau kemana?”, panggil seorang gadis lain dari arah berseberangan yang menyentakkan dirinya.
“Hei, Ra! Mau ke kampus nih, aku telat. Duluan, yaa? Dadaahh.”, sahut Giska di kejauhan sambil melambaikan tangan ke arah Rara.
Langkah Giska bertambah cepat, ia berlari. Giska berhenti di depan ruangan kuliah, dugaannya tepat. Ia terlambat, dosen sudah berada di kelas. “Ah, sial. Gara-gara lembur tugas tadi malem, bangunku kesiangan. Gini nih, telat kuliah. Mampus deh gue!”, gerutu Giska dalam hati.
“Tok tok tok”, bunyi pintu diketok oleh tangan seseorang. Dan tiga detik kemudian, muncul sosok itu.
Giska menyeringai, minta maaf atas keterlambatannya selama sepuluh menit kepada dosen dan teman-teman sekelasnya. Mungkin dosen ngeri ini sedang dalam suasana hati yang baik, tanpa selaan apapun meski dia terlambat, Giska dengan mulusnya dapat meluncurkan dirinya di bangku dan mengikuti perkuliahan Pak Darto sampai selesai.
Giska adalah mahasiswa pindahan dari salah satu universitas negeri di kota Bandung, kini ia berstatus mahasiswa di Universitas Sebelas Maret (UNS). Latar belakang kepindahan studinya adalah kepindahan tugas dinas ayahnya yang mengharuskan berdomisili di kota Solo. Giska lebih memilih pindah universitas dari pada tetap di Bandung melanjutkan studinya tanpa didampingi sanak keluarganya. Kelihatannya sedikit kekanak-kanakan, Giska baru mulai semester pertama di tahun ini.
Adaptasinya tidak cukup sulit, hari ini ketika Giska kuliah pertama di Solo dia sudah mendapat banyak kenalan. Seusai perkuliahan Pak Darto, Giska masih sibuk memasukkan buku-buku ke dalam tasnya. Seseorang mendekat, menjulurkan tangannya kepada Giska untuk mengajak berkenalan.
“Hei, sepertinya aku baru liat kamu di kelas ini. Apa kamu mahasiswa pindahan itu? Boleh kenalan? Aku Dito.”, pemuda ceria itu mengajak Giska berkenalan, senyumnya merekah.
“Ah, halo. Kamu benar, aku mahasiswa pindahan itu. Aku Giska, salam kenal.”, sahut Giska sambil menyambut jabat tangan Dito.
“Oh, Giska. Masih ada kuliah?”, tanya Dito.
“Udah, hari ini satu doang. Kamu masih ada kelas?”, jawab Giska.
“Ya udah, aku duluan ya. Masih ada kelas nih, besok di sambung lagi deh kenalannya. Bye.”, Dito berlalu dengan lambaian tangannya yang semakin jauh tak terlihat lagi.

Wahai matahari, kau datang sinari diri ini.
Untuk pertama ini aku merasakan kau begitu hangat, dekat meski kau hadir terlambat.
~«~
Kampus ini tidak sepi, tidak juga ramai seperti pasar. Struktur bangunannya tidak jauh berbeda dengan universitas lain kebanyakan, mungkin lebih bagus universitas Giska dahulu ketika di Bandung. Meski sedikit, tapi rasanya disayangkan pindah dari universitas ternama di kota Bandung itu.
Ini tidak menjadi  masalah, justru Giska menyukai kota ini yang begitu dikenal dengan budayanya yang masih kental. Senyumnya tersungging, Giska berjalan mengelilingi kampus tempat ia menuntut ilmu hingga wisuda nanti. Berkeliling, mengenal gedung itu juga satu per satu ruangan-ruangannya. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, perpustakaan. Giska gemar membaca, melihat perpustakaan membuatnya amnesia sesaat seperti monyet yang menemukan pisang. Kelihatannya dia gembira, lihat saja gadis itu girangnya minta ampun.
Giska bergegas melangkahkan kakinya masuk ke dalam perpustakaan yang tidak cukup besar, namun muat untuk menampung koleksi buku-buku referensi atau buku-buku lain yang diperlukan mahasiswa fakultas itu.
Jemarinya menari, cekatan memilih-milih buku bacaan yang diinginkannya. Terhenti di satu buku, ujung jari telunjuknya mengambil buku itu. Selajur dengan rak buku itu, di arah berlawanan atau berhadapan dengan Giska, berdiri seseorang. Tepat ketika Giska mengambil buku itu, celah memperlihatkan sosok itu, sosok yang dia kenal dua hari yang lalu.
“Giska?”, teriak Dito saat melihat Giska di sela-sela rak buku.
“Loh, Dito?”, sentak Giska terkaget.
Angin berhembus, menyapu wajah bersih nan lembut gadis itu, lalu menyibakkan rambut lurusnya yang indah. Tubuhnya yang tinggi semampai sungguh mempesona. Mungkin pemuda yang berada di sampingnya menyadari hal itu, pandangannya tidak lepas memandang makhluk indah yang berada di hadapannya itu. Hanya senyum simpul, kekaguman dalam hati yang membisik begitu saja maski diam-diam hanya dirinyalah yang tahu, tidak juga gadis yang berada di dekatnya.
Mereka duduk berdua di taman, Giska dan Dito. Entah apa yang mereka lamunkan, seketika itu hening tak ada sepatah ucapanpun keluar dari mulut mereka berdua. Setelah panjang lebar bercerita kehidupan masing-masing mungkin membuat mereka lelah atau canggung tak ada sesuatu lagi yang dibicarakan. Atau mereka terlena dengan suasana, angin membawa mereka berkhayal tak tentu arah, membuaikan mereka, mengagumi satu sama lain meskipun tak terucap. Hanya di sini, di dalam lubuk hati saja.
Dito memulai pembicaraan setelah hening bak kuburan, “Giska, apa kau suka langit? Cobalah mendongak, lihat ke atas. Apa yang kau temukan?”
“Tentu suka, jika aku dalam masalah dengan memandang langit hatiku menjadi lega, tentramkan hatiku, dan sejenak aku bisa melupakan beban pikiranku. Aku paling suka lihat awan. Kalau kamu apa?”, jawab Giska yang masih menerawang langit juga terbersit suatu kegembiraan di wajah manisnya.
“Awan? Hmmm.. justru aku suka matahari, tiap pagi ketika kubuka jendela kamarku hal yang paling ingin aku lihat adalah matahari terbit. Indah, sungguh menyenangkan dan entah mengapa aku menyukainya. Ahaa, bagaimana kalau kita buat suatu sebutan?”. Dito begitu bersemangat, mengusulkan nama atau sebutan untuk dirinya dan Giska.
“Sebutan apa? Maksudmu?”, tanya Giska keheranan yang masih belum mengerti apa yang di maksud oleh Dito.
“Sebutan untuk kita Giska. Aku punya ide, bagaimana jika aku menyebut diriku matahari sedangkan kamu adalah awan? Unik, bukan?”
“Wah, ide bagus. Aku setuju. Aku awan, kamu matahari? baiklah, wahai matahari seharusnya engkau selalu bersamaku seperti ketika di langit kita selalu bersama-sama.”, cerocos Giska disertai gelak tawa.
Dua anak manusia ini sedang mengalami keceriaan yang tak berbatas, keduanya terhanyut dalam melodi keindahan. Giska dan Dito belum juga beranjak dari taman itu, mereka berdua berbaring di rerumputan dengan tubuh terlentang memandang sang cakrawala yang begitu menawan. Sang awan dan sang matahari yang selalu berdekatan, terbang bersama, meski dalam imajinasi belaka. Keduanya terpejam, merasakan hembusan angin, terdengar degup jantung mereka masing-masing, kemudian sang cakrawala hanya tersenyum memandang kelakukan mereka.
~«~
Awan, kau tau.. kau sungguh menawan.
Senyummu sungguh getarkan hati ini.
Melayang ke angkasa jika kau berada disisiku, tetaplah disisiku.
Jangan pernah beranjak.
Genggam aku, awan. Jangan lepaskan aku.
Hati ini tak mau lepas dari dirimu.
….
Sebuah puisi indah itu dikirim Dito via SMS untuk Giska. Dirinya sedang dirundung kasmaran, kegilaan akan cinta yang buta arah. Hatinya sedang berbunga, pikiranpun tak rasional. Dito selalu tersenyum sendiri, ketika otaknya berpikir tentang sosok gadis yang meluluh lantakkan hatinya, melemahkan persendiaannya meski hanya saling sapa berpandangan. Apa artinya ini? Ah, Dito tidak menggubrisnya. Dia hanya terlena dalam gelora cinta menggilai seorang Giska.
Gemericik air, sungguh syahdu apalagi diiringi suara jangkrik yang begitu khas di telinga. Giska duduk di teras belakang rumahnya, hanya melamun tak melakukan apapun. Angannya terus saja berkhayal membayangkan sosok pemuda yang kharismatik dan ceria yang selalu menemai hari-harinya. Senyumannya, tingkah lakunya yang menggelikan atau malah konyol, gombalan puisi-puisinya yang menerbangkan dirinya layaknya bidadari yang terbang ke angkasa. Giska cekikikan sendiri seperti orang kesambet.
“Tulit tulit tulit”, bunyi ponsel Giska berdering.
Jemari lentiknya menggapai ponsel yang merajuk bergetar di atas meja samping kursi tempat dirinya duduk. Ada satu SMS masuk, dari Dito. Kata-kata indah itu, puisi dari Dito menggetarkan Giska. Degup jantung semakin kencang, senyuman manisnya terus menerus tersungging dari bibirnya, dirinya senang tak terkira. Puisi itu dibacanya berulang-ulang, memori tentang dirinya berputar seperti film, terbayang dan terus terbayang.
Awan, kau tau.. kau sungguh menawan.
Senyummu sungguh getarkan hati ini.
Melayang ke angkasa jika kau berada disisiku, tetaplah disisiku.
Jangan pernah beranjak.
Genggam aku, awan. Jangan lepaskan aku.
Hati ini tak mau lepas dari dirimu.
….
Entah apa yang terjadi pada diri Giska, seperti yang kita tahu hal yang dialaminya sama persis dengan Dito. Dilanda kasmaran. Giska meluncurkan puisinya untuk Dito, untuk sang mataharinya.
Matahari, awan selalu disisimu.
Awan selalu setia, lihat saja selalu temani matahari.
Matahari, kau menghangatkan aku yang dingin.
Jangan menjauh, jangan menghilang jika petir bergemuruh.
Jangan lenyap ketika hujam turun, jangan tinggalkan aku.
Dekap aku, tetaplah disisiku.
Kau bahagiaku, kau pelindungku.
….
Saling berkirim SMS, puisi mewakili isi hati mereka berdua, Giska dan Dito. Bersama melihat mereka alangkah membuat iri, kebahagiaan mereka yang selalu saja dihiasi tawa, celotehan kekonyolan, keusilan keduanya meski sekelumit kegenitan. Sangat jelas terlihat perasaan mereka yang saling mencinta satu sama lain, sangat jelas mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain, sangat jelas mereka ingin tertawa bersama.
~«~
Solo, salah satu kota yang menerapkan Car Free Day (CFD) setiap hari Minggu. Sesuai dengan artinya, hari bebas kendaraan bermotor. Di sepanjang jalan Slamet Riyadi warga Solo sangat antusias berolahraga, di antaranya bersepeda, jogging, gerak jalan, tennis meja, sepatu roda, skateboard. Selain itu di pinggir-pinggir jalan berbagai stan menjajakan jasa juga makanan atau barang-barang jualan. Ramai namun tertib, dan sungguh pemandangan yang menarik dan menyenangkan.
Giska dan Rara bersepeda, sambil menikmati suasana perkotaan yang asri ini. Pagi hari memang membius, membuat terlena kesejukan udara yang bersih. Selain menyehatkan, menjernihkan pikiran, dan sungguh menentramkan.
Rara adalah teman dekat Giska semasa SMP di Bandung, dia lebih dulu pindah ke Solo tiga tahun yang lalu. Kini mereka bertemu kembali di bangku kuliah, satu fakultas tepatnya FMIPA UNS.
“Giska, aku curiga nih. Sebenarnya kamu ada hubungan apa sama Dito? Pacaran ya? Kok gak cerita sih? Utang makan-makan hlo, ya?”, celoteh Rara sambil genjot sepeda.
“Kata siapa aku pacaran sama Dito? Nggak ah.”, jawab Giska.
“Boong banget deh, kalo nggak pacaran kalian kok mesra gitu? Udah jelas kalian itu saling suka, udah deh ngaku aja.”, desak Rara.
Sementara Giska semakin tersipu, terlihat tertahan dia ingin menyembunyikan perasaannya. Tak dapat dipungkiri, hati tidaklah dapat berbohong. Wanita mana sih yang tidak peka, temannya sendiri menyukai seseorang. Rara tentu tahu dan mengerti, apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya ini. Apa lagi kalau bukan Dito, teman laki-laki Giska yang sekarang lagi lengket sama Giska.
Wanita memang sensitif kalau sudah menyinggung tentang perasaan, ini masalah hati. Dan akhirnya Giska bocor juga, menceritakan mengenai dirinya dengan Dito kepada sahabat baiknya ini, Rara.
Dengan antusiasnya, Rara begitu semangat mendengarkan setiap perkataan yang muncul dari mulut Giska. Menjadi pendengar setia seperti anjing yang menurut kepada tuannya, Rara mendengarkan cerita itu hingga selesai, meski lamapun tak jadi masalah.
“Ra, gimana status aku sama dia ya? Nggak jelas gini? Aku seneng sih seneng kalo tiap hari deket sama dia. Tapi tiap aku tanya tentang status, dia lebih memilih untuk tidak menyebut ‘pacaran’. Dia selalu bilang, “Giska, kita sama-sama suka. Lebih baik kita tetap seperti ini saja, jangan katakan pacaran wahai awanku.” Terus apa artinya aku ini, Ra? Hubungan tanpa status?”, suara Giska makin berat seperti mau menangis.
“Giska, jangan nangis dong. Ini keputusannya ada di diri kamu sendiri, tetep disamping dia meski HTS-an atau cukup berteman saja? Kamu nggak bisa maksa dia untuk pacaran sama kamu, kamu nggak bisa egois Giska sayang.”, Rara membelai rambut sahabatnya dengan lembut dan tersenyum simpul.
“Okey, Ra. Hati ini rasanya makin sakit kalo inget dia. Aku ngrasa dalam masalah, aku jatuh cinta sama Dito.” Dan seketika itu, isakan tangis Giska makin terdengar, dia menangis sejadinya. Air matanya menggenang di pelupuk matanya lentik, parasnya yang manis kini menjadi mendung.
Rara menyandarkan sepedanya di bangku taman sekitar Stadion Manahan, menuntun Giska duduk di salah satu bangku yang kosong. Sambil menenangkan Giska, mengusap air matanya, dan menghibur Giska. Rara teman yang baik, pengertian, sifat dewasanya memberikan perlindungan dan teman berbagi yang tepat bagi Giska. Matahari terbit mulai meninggi, aktivitas kota mulai dipadati kendaraan dan Car Free Day (CFD) telah usai.
~«~
Proses perkuliahan telah berlalu dua puluh menit yang lalu, dan Giska masih saja duduk di bangkunya tak bergeming sedikitpun. Lamunannya pun buyar ketika seseorang mengagetkannya dari belakang punggungnya.
“Giska!”, Dito sengaja mengagetkan Giska. Giska tersentak, namun tetap saja wajahnya innocent. Sedetik kemudian matanya melotot, sarafnya kembali menyadarkan dirinya, seseorang yang di depan matanya adalah Dito. Giska geragapan, salah tingkah lebih tepat menggambarkan dirinya yang kelimpungan. Bahkan mengucapkan katapun tampak terbata-bata, mungkin masih shock.
Jari telunjuk Doni dengan gesit menempel di bibir Giska, seakan isyarat bahwa Giska tak harus mengatakan sepatah dua patah kata yang hendak diucapkannya. Tangan Giska diraihnya dengan cepat, beranjak dan membawa Giska melangkah ke suatu tempat. Entahlah, Giska masih bingung belum sempat mengumpulkan kesadaran dari lamunannya. Dito seperti kesurupan, dengan langkah seribu menggandeng Giska menuju ke parkiran motor. Berhenti sejenak, mengulurkan helm pada Giska kemudian menyuruhnya untuk segera membonceng.
“Giska, pegangan yang erat ya.”, tegas Dito dengan senyum simpul yang menawan.
“Eeeeh, iiiiyaaa.”, jawab Giska yang ragu dan agak terbata.
Tangan Giska melingkar di pinggang Dito, angin menyibakkan rambut lurusnya dan tak sadar dirinya bersandar di bahu pemuda itu. Matanya terpejam, bibirnya tersenyum, perasaan tenang menyelimuti dirinya. Dan yang paling jelas adalah dia sangatlah bahagia. Sang matahari membawa sang awan ke suatu tempat dan hari ini mereka bersama, saling berdekatan, bergandengan.
Dito tetap saja berkharisma, memang pemuda yang ceria meskipun banyak bertingkah konyol. Di pandangnya kedua tangan yang melingkari pinggangnya, pemuda itu hanya tersenyum. Mungkin dia bahagia berdekatan dengan sang awan, pujaan hatinya terlebih berjarak kurang dari satu millimeter.
Motor Dito melaju dengan teratur, perlahan kecepatannya dan akhirnya berhenti di Taman Balekambang. Dito membawa Giska di depan kolam, duduk di salah satu bangku kosong yang tersisa. Keduanya masih tetap diam dalam sepi, berbanding terbalik dengan sekitar tempat mereka duduk justru ramai dengan orang yang berlalu-lalang.
Dito memegang erat tangan gadis di sampingnya, pandangan mereka bertemu. Dito mulai bicara memecah keheningan di antara mereka sedangkan bibir mungil Giska tetap terkatup rapat.
Awan, aku bahagia bersamamu.
Aku hanya ingin cinta kita mengalir seperti ini, tanpa beban.
Aku hanya tidak ingin menyebut istilah pacaran, biarkan aku menyukaimu, menggilaimu dengan bebas. Dengan caraku sendiri.
Bolehkah?
Giska menoleh, memandang sosok pemuda yang sangat didambakannya untuk menjadi kekasih hatinya.
Matahariku, aku bahagia bersamamu.
Aku tau dirimu mencintaiku, aku tau dirimu tak ingin terbelenggu dengan istilah pacaran.
Tapi sudikah kau mengakuiku sebagai kekasihmu, awan hanya ingin mendapat pengakuan dari matahari. Tentu saja boleh kau menyukaiku, diri ini tidak melarang.
Taukah matahari, justru awan bahagia dan tidaklah ingin jauh darimu.
Dito tersenyum, kembali dipandangnya gadis yang berada di sampingnya itu dengan sorotan mata yang tajam dan dalam. Sungguh tersirat bahwa dirinya mencintai gadis itu.
Begitukah? Tentu saja awan selalu bersama matahari. Tentu saja diri ini milikmu, wahai awanku. Dan dirimu adalah milikku. Tetapi bukan sumpah bibir saja, namun di lubuk hati. Hati ini sesungguhnya milikmu, wahai awan. Aku akan selalu bersamamu, tapi tidak untuk sebutan pacaran tidak juga persahabatan. Lebih dari sekedar itu, jiwa ini milikmu tapi bukan raga ini. Meski begini jangan menjauh dariku, bolehkah matahari tetap mendambakan awan?
Giska tak menjawab, hanya diam dan diam. Hatinya goyah, dia semakin tidak mengenal dirinya. Rapuh sudah harapannya, meski hatinya milik Dito dan hati Dito milik dirinya. Tidak mengubah apapun, Dito tetap pada pendiriannya tidak ingin mengubah status mereka. Sosok pemuda dengan ideologi individualis meruntuhkan Giska, pengakuan tidak didapatnya. Hanya cinta di bibir, apa benar di hati juga? Nyatanya pemuda itu hanya menganggap cinta sebuah kesenangan, hiburan dan tidak ingin saling memikul dan berbagi kesedihan.
Tetapi cinta memang mengalahkan segalanya, Giska tetap menerima keputusan Dito. Cinta mereka tanpa status yang jelas, kekaguman satu sama lain hanya sebagai obat hati. Mengalir seperti air, ini seperti permainan yang tiada akhir ujungnya hingga salah satu pihak yang harus menghancurkannya.
«««

0 komentar:

Posting Komentar

 
art . ekspression . culture Blogger Template by Ipietoon Blogger Template