16/05/12

Cerpen "Petak Umpet Terkutuk"


Petak Umpet Terkutuk
~Arifah Nian E.~

Angin semerbak, jalan berdebu.
Hanya seseorang saja yang berjalan sendiri.
Persimpangan jalan menghentikan langkahnya, tubuhnya kaku dan perlahan ia menengok sesuatu yang mungkin mengikutinya.
Hanya pikirannya yang menjelajah, kebimbangan, ketakutan yang tidak beralasan.
Tubuhnya mulai tak bisa digerakkan, keringatnya mengucur.
Terpaan angin menyapu wajahnya yang mulus, isyaratkan ketakutannya.
§

Cerpen "Sinarmu Tak Lagi Datang"



~Arifah Nian E.~


Awan adalah diriku, matahari adalah dirimu.
Kenapa bisa? Ini hanyalah pengandaian saja, tentu saja tidak bisa dijelaskan dan jangan tanya bagaimana ini bisa? Siapa yang memulai?

Wahai awan, kau yang selalu menaungi aku, melindungi aku.. oh, bukan. Lebih tepat kau bersamaku ketika aku menampakkan sosokku ini.
Wahai awan, kau sungguh setia. Selalu saja bersamaku, apa kau tidak lelah?

Wahai matahari, taukah? Kau begitu menawan, sinarmu yang selalu sejukkan aku.. menyapu putihnya dan lembutnya diri ini.
Wahai matahari, meski kau panas dan aku dingin kaulah yang menghangatkan aku. Menemani aku ketika hari cerah. Meski tidak ketika gemuruh petir datang, lalu mengantarkan hujan. Kau menghilang, menjauh dari sisiku dan aku kembali kedinginan.
~«~

13/05/12

Puisi "Rengekan Kantuk Nurani"

Rengekan Kantuk Nurani

Hening, hanya sayup suara terdengar dari lantunan lagu..
Jelas jika didekatkan, tapi ini kurasa jauh
Mata ini semakin berat,
Perlahan pasti tubuh ini mulai lunglai
Mata ini semakin memejam erat
Perlahan sudah tubuh ini terkulai
Antara sadar dan tidak
Fisik meronta kejelasan bermanja
Kelihatannya lucu,
Tarian jariku di atas tuts tak terkoneksi
Oleh syarat otak, seperti kabel putus nyambung
Gairah redup, hilang sekejap
Malas dan malas ini tidak boleh diganggu
Turuti, biarkan bersemayam
Dalam alam fatamorgana, tak terjamah nalar
Dalam peristirahatan pembawa ketentraman
***

***

ketika hati ini berontak tak menyetujui kesesatan itu...

hanya ingin sepatah dua patah bersikukuh dengan prinsip hidup, bertentangan dengan hati nurani, dan diri ini tidaklah dapat berbuat apapun bahkan mengubahnya. atas dasar batas indivualitas, dan privasi orang lain.
kamu tak selamanya berjalan sendiri, ada dzat yang menuntunmu..
tapi apakah kau jauh percaya dengan bisikan yang jelas-jelas menyimpang dan membawa mudarat?
seharusnya kamu tahu kemanakah membawa dirimu sendiri, untuk sebuah tujuan apakah hidupmu? itu perlu kau pertanyakan tiap instropeksi dirimu.. sesungguhnya itu adalah sebuah koreksi evaluasi diri.
hanya dapat merasa kasihan, jika menjumpai orang lain atau orang sekitar yang menyia-nyiakan hidupnya hanya demi kesenangan tak kekal di dunia ini. senang sesaat apakah bisa mengobati? justru anda terjebak dalam lembah kenistaan yang sungguh merugi dan menjijikkan, bagi dirimu sendiri, bagi orang lain, bahkan di mata Sang Khalik.
Masih belum cukup, aku narsis sama sohib-sohibku.
Kapanpun, dimanapun, sempetin berfoto-foto ria deh biar gak nyesel terlebih lagi kalian punya sesuatu untuk selalu dikenang dalam ingatan :)


 


 ***@solo.cfd/18 Maret 2012

Solo Care Free Days (Objek Foto)

Solo termasuk kota yang berhasil mengadakan Care Free Days, yang dilaksanakan setiap hari Minggu. Sudah menjadi pemandangan yang luar biasa, dan sungguh perlu diterapkan di kota-kota lain di Indonesia.
Apa aja sih dan ngapain aja warga Solo setiap hari Minggu, alias Care Free Days??? Intip yuk?
(18/3/2012) Hari ini, aku bersama teman-teman CFD-nan nih di Solo. Dan ada suatu hasrat yang menjangkitiku untuk menjepret objek ini, (apa sih?). Walaupun asal-asalan, dan hanya otodidak aja aku belajar memotret, yang penting diri ini gembira. Menyenangkan diri sendiri sungguh membahagiakan, yupp.. gak perlu takut salah, jika ingin belajar kenapa tidak? jika ingin belajar, apapun lakukan saja seperti yang kamu mau kan?
Salah satu jepretan asalku, maklum amatiran -_____-V~~ *sungguh, mengakui yaa? HAHAHAHAA~

mas dan mbak syahdu deh boncengan, huuu kata orang-orang itu.. "romantis" ~^o^~~

seorang bapak penjual gelembung sabun, wow.. mengingatkanku pada "spongebob" si spons kuning dengan daya imajinasi tinggi*** :D

sosok yang sangat menginspirasi kita untuk beralasan tetap hidup, berjuang, dan melawan takdir yang tidak sejalan dengan keinginan kita... :)

sungguh menyejukkan melihat pemandangan ini, hmmm.. membuatku selalu kangen berkumpul dengan keluarga, bersama ayah-bunda-dan kedua adikku \^o^?~
ini nih, objek foto yang paling membuat aku geli. bapak yang sedang baca koran ini sadar waktu kameraku terarah pada dirinya, apa coba yang dia bilang? "wah, moto aku to? aku gelem noh dipoto, ayo nduk cah ayu poto kato aku." 
nah loh, aku ngapain coba? *bengong sejenak, langkahku percepat, sumpah.. maluuu //'/.\'\\~ *GLEK (menelan ludah)
***

Penggalan Cerita *Buntu*

Sebulan sudah saya lalui disini, tempat kerja yang sesuai dengan keinginan saya. Seperti biasa, hari-hariku disibukkan dengan pekerjaan yang saya tekuni semasa saya belajar di universitas. Pagi ini langkah kaki saya mendarat di perusahaan penerbitan media cetak (koran) Solo Pos. Menuju ruang kerja, dari sinilah aktivitas saya dimulai.
“Hai, git”. Salah seorang teman akrab saya menyapa.
“Eh, Tanti? Iya, pagi sayang”. Jawaban saya asal nyeletuk. “Mana teman-teman yang lain? Belum datang ya? Jam berapa sih?”.
“He’em, git. Kita kepagian kali ya? Hahaha... Gimana kerjaan mu kemarin? Kelar kan? Maafin ya, kemarin aku pulang duluan”.
“Udah, kok. Maklum tan, jadi editor kan kerja akhir lembur pun udah jadi biasa. Moga-moga aja kerjaanku pas sama persepsinya Bu Dina, kalo nggak kena semprot lagi deh. Hmm ...kerja dua kali lagi aku, huhhh... Iya, nggak apa-apa. Kasihan kamu juga harus nungguin aku segala.”
“Aduh, git ...udah, jangan mikirin semprotannya Bu Dina yang penting kan kamu udah bener-bener jadi editing yang profesional. Cieeeillleehhh, hahaha ... nungguin kamu mah, nggak masalah non. Aku kemarin buru-buru soalnya ada janji sama si Panji. Sssssttttttt... jangan bilang sama siapa-siapa loh, ya?”
“halah, halah ...ni anak satu, jan tenan. Ihhhiiiiirrrr ... siapa tuh Panji? Ehem, ehem. Makan-makan nih? Hahaha... iya, siapa bilang sih aku ember? Nggak percaya amat, uda kenal sebulan pula.”
“Hahaha, entar aja aku cerita sama kamu. Diem loh, ya?. Wah, udah pada datang tuh. Bener deh, kita kepagian non.”
Ruang kerja mulai penuh terisi orang-orang yang bekerja sesuai dengan posisinya masing-masing. Jam dinding pun telah menunjukkan pukul 08.00, orang-orang mulai disibukkan dengan pekerjaannya. Tidak ada yang mengatur memang, namun telah berjalan secara alamiah dengan sendirinya sesuai prosedur perusahaan yang mengharuskan berjalan dengan demikian.
Saya bergelut di bidang editing, sebagai proses pekerjaan finishing dalam menyelesaikan bahan berita yang akan dicetak sebelum menuju ke proses penerbitan dalam sebuah perusahaan media cetak (koran).
“Hmm... memang, mau tidak mau saya dituntut untuk cepat, tepat, tangkas, kreatif dan nggak kalah penting lembur jadi hal biasa. Liat aja, ni mata tiap mau deadline pasti tembem gara-gara kurang tidur. Belum lagi, kerjaanku dianggap belum bener sama Bu Dina. Keteteran lagi buat ngedit langkah kedua, langkah darurat yang butuh kerja ekstra hati-hati juga teliti.”
“Egita”.
Setengah ngelamun, setengah ngantug... berat banget ni kepala, gara-gara ngedit kemarin jadi lembur tengah malem.
“kayak ada yang panggil aku? Iya, nggak ya?”
“Egitaaaa”. Panggilan Bu Dina semakin jelas di telinga saya.
“Eh, iya-iya bu. Maaf, Bu Dina. Hehe...” baru sadar, di sampingku ada Bu Dina. Lagakku malah cengar cengir.
“Dipanggil kok nggak jawab. Kamu ini kerja, kalo ngantug sana pulang! Tidur saja di rumah!”.
“Maa..maaf, ibu.”
“Koreksi ulang editan kamu kemarin, ada yang kurang pas. Halaman 1 dan 2 kurang sinkron. Yang teliti!”.
“Baik, ibu. Akan saya cek ulang, maaf ibu.”
Bu Dina mulai melangkah dan meninggalkan saya, tergeletak CD soft file di meja yang aku edit tadi malam. Saya mulai bergerak, checking ulang bahan deadline minggu depan.
Pukul 11.00 tepat, selesai sudah proses editing saya yang kedua. Cukup melelahkan, kelopak mata ingin saya turunkan hingga mata terpejam beberapa saat sebagai penghilang kepenatan. Saat itu jugalah, saya langkahkan kaki menuju ruang kerja Bu Dina. Syukurlah, beliau menerimanya. Hmm ...lega sudah beban yang mengikat hingga berujung kepenatan.
“Egita, keluar yuk? Cari makan siang, laper nih”. Ajakan Tanti membawa gairah kembali.
“Iya, tan. Buruan yuk, hehehe...”
“Ni anak, buru-buru mulug. Kelaperan ya? Abis spot jantung gara-gara Bu Dina ya? Hahaha...”
“Ah, jangan bahas itu lah”. Muka mulai cemberut, agar Tanti mengganti topik pembicaraan.
“Iya, iya nona egita yang cantik. Jangan cemberut dong, jelek tau. Cantiknya ilang loh,”.
Kami menuju kedai yang menyajikan beberapa menu makanan. Disinilah tempat kami makan siang hari ini. Ada beberapa kedai yang dapat dijumpai, tak jauh dari kantor tempat saya bekerja. Tinggal kita yang pilih, mau yang mana.
“Hayo, Panji itu siapa? Ehem, ehem”. Saya mulai menyeletuk pembicaraan memilih topik bahasan untuk ngobrol.
“Masih inget aja, git. Hahaha... Panji itu temen aku waktu SMA, nggak sengaja pernah papasan di pasar klewer”. 

bersambung...
(buntu ide nih, bantu saran dong mau di bawa kemana ini ujung akhir cerita ini.. oh, menyedihkan.. sungguh terbengkalai tulisan ini.. wkwkwk B-)~)

12/05/12

Naskah Drama "Burung-burung Manyar"


Naskah Drama "Burung-burung Manyar" YB. Mangun Wijaya
Oleh: Arifah Nian E & Ornella Dian O
 
PROLOG
SETADEWA :
Kehidupanku yang begitu rumit dicerna juga diterjemahkan, liku-liku bagai jalan tak tentu arah terombang-ambing dengan pikiranku sendiri yang tidak kunjung bersih.
Mulai dengan pribadiku sebagai anak kolong yang bebas dengan dunia serta imajinasiku yang begitu menyenangkan. Benakku mulai melangkah, kehidupanku dimulai dari peristiwa yang sebelumnya tak kubayangkan dan tak kumengerti. Karena ibuku, karena pula ayahku yang telah bersekongkol membela negeri Belanda dengan Jepang dan Indonesia sebagai musuhnya.
Aku menjadi pengikut mereka, ideologi juga paham terpatri dengan Negara kincir angin itu. Namun Atik, sosok wanita idamanku justru memilih Negara busuk …dengan berbagai akal bulus …Indonesia.
Keraguan melandaku, jati diri yang belum bisa kutemukan dan dengan kehidupanku yang sulit kutebak sendiri.

Pementasan Drama "Burung-burung Manyar"


Berkarya merupakan wujud kompetensi diri kita akan suatu hal, dari berkarya kita dapat berekspresi secara bebas dan bahkan menginspirasi orang lain. Nah, tepat di semester dua lalu saya dan teman-teman seangkatan saya (2010) prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia-UNNES berkesempatan untuk mementaskan drama.
Ini nih, serunya sastra :)
Apa saja sih persiapan yang berjubel yang harus dipersiapkan pasca pementasan drama? Yang harus dan gak boleh ketinggalan, adalah teks atau naskah drama, sutradara, pemain (tokoh), dan gak kalah penting adalah properti. Segala sesuatu dan bla bla bla yang berhubungan dengan setting atau penataan panggung, apa-apa aja yang harus ada dan dibutuhin, dan satu lagi.. yupp, lighting! penata lampu, jangan sampai lupaaa.
Gak kebayang serunya, meski lelah apalagi menggerutu asal muasal soal latihan dan persiapan properti sungguh lenyap digantikan gemerlapnya panggung pementasan, groginya para pemain yang khawatir gugup apalagi lupa dialog, gak tenangnya para pemain belakang layar alias kru yang kesetanan akibat cekatannya untuk persiapan pementasan.
Ahahahaaiii, ini nih foto kelompok BBM (Burung-burung Manyar) yang sempet njepret bareng ketika usai pementasan drama kami :))
Yuhuuuu.... cekidot!~~~


aku sang sutradrara + lighting bersama pemainku tutut "bu antana"



full kelompok BBM (ornella, tutut, aline, finda, angga, sista, tanti, nian (aku), faisal)




dan foto kami (lagi) \^o^?~

***Prolog (TETO)***

Kehidupanku yang begitu rumit dicerna juga diterjemahkan, liku-liku bagai jalan tak tentu arah terombang-ambing dengan pikiranku sendiri yang tidak kunjung bersih.
Mulai dengan pribadiku sebagai anak kolong yang bebas dengan dunia serta imajinasiku yang begitu menyenangkan. Benakku mulai melangkah, kehidupanku dimulai dari peristiwa yang sebelumnya tak kubayangkan dan tak kumengerti. Karena ibuku, karena pula ayahku yang telah bersekongkol membela negeri Belanda dengan Jepang dan Indonesia sebagai musuhnya.
Aku menjadi pengikut mereka, ideologi juga paham terpatri dengan Negara kincir angin itu. Namun Atik, sosok wanita idamanku justru memilih Negara busuk …dengan berbagai akal bulus …Indonesia.
Keraguan melandaku, jati diri yang belum bisa kutemukan dan dengan kehidupanku yang sulit kutebak sendiri.

11/05/12

Generasi Budak Zaman




Generasi Budak Zaman

Liku, terjal, samar, penuh ilusi
Itulah kemistisan hidup
Genggaman tangan yang tak cukup kuat menggoyahkanmu
Selami kepahitan hidup yang tak terencana dugaanmu
Kebaikan tenggelam dalam kerumitan ideologi
Realitas generasi kecanggihan teknologi
Buta,
Tiap sehelai amalmu didunia
Ingatkah akan dipertanggung jawabkan?
Lihat saja, hakim tertinggi hanya Allah
Dirimu terpantau, tindak-tanduk apapun
Terlihat oleh-Nya
***
 


 
art . ekspression . culture Blogger Template by Ipietoon Blogger Template